Sabtu, 16 Mei 2015

softskill 3

MAKALAH
SOFTSKILL
“PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5VsooLNsKoOrAuTERpg2sCg4jEFKZjb4VTYGhihTfOCRvzXe9I1SEJ8G9dwUv-qPNW_-wq6060PWYgdyCgMRzk7Ake0BUWZ89qqeB6G-GGG8eyx7SZLNJOIZkWTqWln4do78iXiDx9Eo/s400/gundar.jpeg

DISUSUN OLEH KELOMPOK :
-             AGVA EKO SUTRIONO       (10514523)
-             NILAM SALAMAH HAMID            (1D514168)
-             WULAN SUNDARI                (1C514329)


KELAS 1PA18
FAKULTAS PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
MATA KULIAH : SOFTSKILL
DOSEN : NITA SRI HANDAYANI, SPsi



UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA 2014/2015







KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “perkembangan kreativitas dan keberbakatan”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Softskill.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. 
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
















1. BELAJAR KREATIF
a. Pengertian
kreativitas belajar dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk menciptakan hal-hal baru dalam belajarnya baik berupa kemauan mengembangkan  kemampuan formasi yang diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.

b. Liputan proses belajar kreatif
Secara fisikal, ada beberapa ciri menonjol yang tampak dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kratif adalah sebagai berikut.
1.      Mengandalkan buku sebagai satu-satunya sumber belajar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk lebih memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Bukan semata-mata untuk menjelekan sama sekali buku pelajaran sebagai salah satu sumber belajar peserta didik.
2.      Sumber belajar yang beraneka ragam tersebut kemudian didesain skenario pembelajarannya dengan berbagai kegiatan.
3.      Hasil kegiatan belajar mengajar kemudian dipajang di tembok kelas, papan tulis, dan bahkan ditambah dengan tali rapiah di sana-sini. Pajangan tersebut merupakan hasil diskusi atau hasil karya siswa.pajangan hasil karya siswa menjadi satu ciri fisikal yang dapat kita amati dalam proses pembelajaran.
4.      Kegiatan belajar mengajar bervariasi secara aktif, yang biasanya didominasi oleh kegiatan individual dalam beberapa menit, kegiatan berpasangan, dan kegiatan kelompok kecil antara empat sampai lima orang, untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah disepakati bersama, dan salah seorang di antaranya menyampaikan (presentasi) hasil kegiatan mereka di depan kelas. Hasil kegiatan siswa itulah yang kemudian dipajang.
5.      Dalam mengerjakan berbagai tugas tersebut, para siswa, baik secara individual maupun secara kelompok, mencoba mengembangkan semaksimal mungkin kreativitasnya.
6.      Dalam melaksanakan kegiatannya yang beraneka ragam itu, tampaklah antusiasme dan rasa senang siswa.
7.      Pada akhir proses pembelajaran, semua siswa melakukan kegiatan dengan apa yang disebut sebagai refleksi, yakni menyampaikan (kebanyakan secara tertulis) kesan dan harapan mereka terhadap proses pembelajaran yang baru saja diikutinya (Suparlan, 2008: 73)

c. Mengapa belajar kreatif itu penting ?
Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1.      Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2.      Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3.      Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4.      Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.

d. Tiga Tingkat Belajar Kreatif (model Triffinger)
 Model Treffinger untuk mendorong belajar kreatif merupakan salah satu dari sedikit model yang menangani masalah kreativitas secara langsung  dan memberikan saran-saran praktis  bagaimana mencapai keterpaduan.  Dengan melibatkan, baik ketrampilan kognitif maupun afektif pada setiap tingkat dari model ini, Treffinger menunjukkan saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mendorong belajar kreatif.


Di samping dalam proses belajar kreatif digunakan proses berfikir divergen (proses berfikir bermacam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) dan proses berfikir konvergen (proses berfikir yang mencari jawaban tunggal).

Pembelajaran kreatif model Treffinger ini dapat membantu siswa
untuk berfikir kreatif dalam memecahkan masalah, membantu siswa dalam menguasai konsep-konsep materi yang diajarkan, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan potensi-potensi kemampuan yang dimilikinya termasuk kemampuan kretivitas dan kemampuan pemecahan masalah.

Dengan kreativitas yang dimiliki siswa berarti siswa mampu menggali potensinya dalam berdaya cipta, menemukan gagasan, serta menemukan pemecahan atas masalah yang dihadapinya yang melibatkan proses berfikir.

Model untuk mendorong belajar kreatif dari Treffinger ini terdiri dari tiga tingkat atau tahap belajar kreatif, yaitu :

Tingkat I, adalah Basic Tools, yaitu tehnik-tehnik kreativitas tingkat I yang meliputi ketrampilan divergen dan tehnik-tehnik kreatif. Ketrampilan dan tehnik-tehnik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berfikir serta kesediaan mengungkapkan pemikiran kreatif kepada orang lain.



Tingkat II, adalah Practice With Process, yaitu tehnik kreativitas tingkat II yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis.

Pada tingkat ini, faktor-faktor pengenalan (kognitif) dan afektif dari tingkat I diperluas dan diterapkan. Segi pengenalan dari tingkat II ini meliputi penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. Segi afektif pada tingkat II mencakup keterbukaan terhadap perasaan-perasaan dan konflik yang majemuk, mengarahkan perhatian kepada masalah, penggunaan khayalan dan tamsil, dan kesantaian (relaxation), serta pengembangan “keselamatan” psikologis dalam berkreasi atau mencipta.
Untuk tujuan ini digunakan strategi seperti menggunakan metode sosiodrama, simulasi, dan studi kasus. Kemahiran dalam berfikir kreatif menuntut siswa memiliki ketrampilan untuk melakukan fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi, imajinasi, dan fantasi.

Tingkat III, adalah Working With Real Problems, yaitu tehnik-tehnik kreatif tingkat III yang menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada dua tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. Dalam ranah pengenalan (kognitif), hal ini berarti keterlibatan dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan mandiri dan yang diarahkan sendiri-sendiri. Belajar kreatif siswa mengarah pada identifikasi tantangan-tantangan atau masalah-masalah yang berarti, pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalah-masalah tersebut, dan pengelolaan sumber-sumber yang mengarah pada perkembangan hasil atau produk. Dalam ranah afektif, tingkat III mencakup internalisasi (pemribadian) nilai-nilai dan sistem nilai, keterikatan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang produktif, dan upaya untuk mencari pengungkapan (aktualisasi) diri dalam hidup.
Isosceles Triangle: Tingkat III
Keterlibatan dalam
tantangan-tantangan
nyata
 





Kognitif
                                               
- Pengajuan pertanyaan
   secara mandiri
- Pengarahan diri
- Pengelolaan sumber
- Pengembangan Produk.

Isosceles Triangle: Tingkat II Proses berfikir dan perasaan yang majemuk
 

Kognitif

- Penerapan
- Analisis
- Sintesis
- Evaluasi
- Keterampilan metodologis
  dan penelitian
- Transormasi
Isosceles Triangle: Tingkat I

Fungsi divergen

- Metafor dan analog


Kognitif

-Kelancaran
-Kelenturan
-Orisinalitas
-Pemerincian
-Pengenalan dan ingatan






Afektif

- Pemribadian nilai
- Peningkatan diri
 terhadap hidup
produktif
- Menuju perwujudan diri

Afektif

-Keterbukaan terhadap
Perasaan
-perasaan mamejuk
-Meditasi dan kesantaian
-Pengembangan nilai
-Keselamatan psikologis
dalam berkreasi
-Penggunaan khayalan
dan tamsil

Afektif
-Rasa ingin tahu
-Kesediaan untuk    menjawab
-Keterbukaan terhadap  pengalaman
-Keberanian mengambil
risiko
-Kepekaan terhadap
masalah
-Tenggang rasa
-Peraya diri








2. MENGAJAR KREATIF
a.      Pengertian
Definisi mengajar adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain (Hoetomo,MA,1999) sedangkan Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum (2010) Kreativitas ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. sedangkang menurut Fuad Anshori ( " Mengembangkan kreativitas dalam perspektif psikologi islam".Yogyakarta:Menara kudus, 2002, h. 33 18) Kreativitas meliputi baik ciri-ciri kognitif (aptitude) seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas).

b.      Teknik Mengajar Kreatif
1.      Melakukan Pemanasan
Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka
1.      Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai
2.      Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari
3.      Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda
(Munandar, 1999 : 100-1003).

2.      Pemikiran & Perasaan Terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai jawaban.

3. STRATEGI BELAJAR KREATIF
Pembelajaran kreatif menekankan pada pengembangan kreatifitas, baik pengembangan kemampuan imajinasi dan daya cipta (mengarang, membuat kerajinan tangan, mempraktekkan kesenian dll) maupun pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Pembelajaran di SD/MI pada umumnya masih mengupayakan pengembangan kemampuan berpikir rasional logis. Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator dituntut untuk senantiasa kreatif dalam merancang pembelajaran, serta memiliki beragam strategi pembelajaran yang digunakan agar pembelajaran tersebut memenuhi beragam tingkat kemampuan siswa di kelas. Pengetahuan siswa yang diperoleh dalam hal ini berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan ditransfer pengetahuan dari guru.


4.MENGANALISA SARAN-SARAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR KREATIF

1.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep- konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan.
2.      Membuat siswa aktif dalam pembelajaran.
3.      Mengembangkan kemampuan berpikir siswa, karena disajikan masalah pada awal pembelajaran dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mencari arah-arah penyelesaiannya sendiri.
4.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mendefinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisis data, membangun hipotesis dan percobaan untuk memecahkan suatu permasalahan.
5.      Membuat siswa dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baru.
































SUMBER :

Basuki, A.M. Heru. Prof, Dr,Mpsi (2005). Kreativitas, Keberbakatan, Intelektual, Dan Faktor-Faktor Pendukung Dalam Pengembangannya. Jakarta : Universitas Gunadarma.

Dewi, Laksmi dan Masitoh. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Islam.
Zaini, Hisyam, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani. 2002. Strategi Pembelajaran Aktif Di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD (Center for Teaching Staff Development).
Mulyatininsih, Endang. 2010. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Depok: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Jasmine, Julia. 2007. Mengajar Berbasis Multiple Intelegences. Bandung: Nuansa
Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta
Semiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Gramedia
Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2010. Teori Belajad dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia
Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
 Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar