MAKALAH
SOFTSKILL
“PENGEMBANGAN
KREATIVITAS & KEBERBAKATAN”

DISUSUN
OLEH KELOMPOK :
-
AGVA EKO SUTRIONO (10514523)
-
NILAM SALAMAH HAMID (1D514168)
-
WULAN SUNDARI (1C514329)
KELAS
1PA18
FAKULTAS
PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
MATA
KULIAH : SOFTSKILL
DOSEN
: NITA SRI HANDAYANI, SPsi
UNIVERSITAS
GUNADARMA
PTA 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala,
karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
“perkembangan kreativitas dan keberbakatan”. Makalah ini diajukan guna memenuhi
tugas mata kuliah Softskill.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat
untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
1. BELAJAR KREATIF
a. Pengertian
kreativitas
belajar dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk menciptakan hal-hal baru
dalam belajarnya baik berupa kemauan mengembangkan kemampuan formasi yang
diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa pengetahuan
sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.
b. Liputan proses belajar kreatif
Secara
fisikal, ada beberapa ciri menonjol yang tampak dalam proses pembelajaran
dengan menggunakan pembelajaran kratif adalah sebagai berikut.
1. Mengandalkan buku sebagai satu-satunya
sumber belajar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk lebih memperkaya
pengalaman belajar peserta didik. Bukan semata-mata untuk menjelekan sama
sekali buku pelajaran sebagai salah satu sumber belajar peserta didik.
2. Sumber belajar yang beraneka ragam
tersebut kemudian didesain skenario pembelajarannya dengan berbagai kegiatan.
3. Hasil kegiatan belajar mengajar
kemudian dipajang di tembok kelas, papan tulis, dan bahkan ditambah dengan tali
rapiah di sana-sini. Pajangan tersebut merupakan hasil diskusi atau hasil karya
siswa.pajangan hasil karya siswa menjadi satu ciri fisikal yang dapat kita
amati dalam proses pembelajaran.
4. Kegiatan belajar mengajar bervariasi
secara aktif, yang biasanya didominasi oleh kegiatan individual dalam beberapa
menit, kegiatan berpasangan, dan kegiatan kelompok kecil antara empat sampai
lima orang, untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah disepakati bersama, dan
salah seorang di antaranya menyampaikan (presentasi) hasil kegiatan mereka di
depan kelas. Hasil kegiatan siswa itulah yang kemudian dipajang.
5. Dalam mengerjakan berbagai tugas
tersebut, para siswa, baik secara individual maupun secara kelompok, mencoba
mengembangkan semaksimal mungkin kreativitasnya.
6. Dalam melaksanakan kegiatannya yang
beraneka ragam itu, tampaklah antusiasme dan rasa senang siswa.
7. Pada akhir proses pembelajaran,
semua siswa melakukan kegiatan dengan apa yang disebut sebagai refleksi, yakni
menyampaikan (kebanyakan secara tertulis) kesan dan harapan mereka terhadap
proses pembelajaran yang baru saja diikutinya (Suparlan, 2008: 73)
c. Mengapa belajar kreatif itu penting ?
Refinger
(1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa
belajar kreatif itu penting.
1. Belajar kreatif membantu anak
menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah
aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani
dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan
untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di
masa depan.
3. Belajar kreatif dapat menimbulkan
akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih
dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa
belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi
kita.
4. Belajar kreatif dapat menimbulkan
kepuasan dan kesenangan yang besar.
d. Tiga Tingkat Belajar Kreatif
(model Triffinger)
Model Treffinger untuk mendorong belajar kreatif merupakan
salah satu dari sedikit model yang menangani masalah kreativitas secara
langsung dan memberikan saran-saran
praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Dengan melibatkan, baik ketrampilan kognitif
maupun afektif pada setiap tingkat dari model ini, Treffinger menunjukkan
saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mendorong belajar
kreatif.
Di samping dalam proses belajar
kreatif digunakan proses berfikir divergen (proses berfikir bermacam-macam arah
dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) dan proses berfikir konvergen
(proses berfikir yang mencari jawaban tunggal).
Pembelajaran kreatif model
Treffinger ini dapat membantu siswa
untuk berfikir kreatif dalam memecahkan
masalah, membantu siswa dalam menguasai konsep-konsep materi yang diajarkan,
serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan potensi-potensi kemampuan
yang dimilikinya termasuk kemampuan kretivitas dan kemampuan pemecahan masalah.
Dengan kreativitas yang dimiliki
siswa berarti siswa mampu menggali potensinya dalam berdaya cipta, menemukan
gagasan, serta menemukan pemecahan atas masalah yang dihadapinya yang
melibatkan proses berfikir.
Model untuk mendorong belajar
kreatif dari Treffinger ini terdiri dari tiga tingkat atau tahap belajar
kreatif, yaitu :
Tingkat I, adalah Basic Tools, yaitu
tehnik-tehnik kreativitas tingkat I yang meliputi ketrampilan divergen dan
tehnik-tehnik kreatif. Ketrampilan dan tehnik-tehnik ini mengembangkan kelancaran
dan kelenturan berfikir serta kesediaan mengungkapkan pemikiran kreatif kepada
orang lain.
Tingkat II, adalah Practice With
Process, yaitu tehnik kreativitas tingkat II yang memberi kesempatan kepada
siswa untuk menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi
praktis.
Pada tingkat ini, faktor-faktor
pengenalan (kognitif) dan afektif dari tingkat I diperluas dan diterapkan. Segi
pengenalan dari tingkat II ini meliputi penerapan, analisis, sintesis dan
penilaian. Segi afektif pada tingkat II mencakup keterbukaan terhadap
perasaan-perasaan dan konflik yang majemuk, mengarahkan perhatian kepada
masalah, penggunaan khayalan dan tamsil, dan kesantaian (relaxation), serta
pengembangan “keselamatan” psikologis dalam berkreasi atau mencipta.
Untuk tujuan ini digunakan strategi
seperti menggunakan metode sosiodrama, simulasi, dan studi kasus. Kemahiran
dalam berfikir kreatif menuntut siswa memiliki ketrampilan untuk melakukan
fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi, imajinasi, dan fantasi.
Tingkat III, adalah Working With
Real Problems, yaitu tehnik-tehnik kreatif tingkat III yang menerapkan
ketrampilan yang dipelajari pada dua tingkat pertama terhadap tantangan dunia
nyata. Dalam ranah pengenalan (kognitif), hal ini berarti keterlibatan dalam
mengajukan pertanyaan-pertanyaan mandiri dan yang diarahkan sendiri-sendiri.
Belajar kreatif siswa mengarah pada identifikasi tantangan-tantangan atau
masalah-masalah yang berarti, pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan
dengan masalah-masalah tersebut, dan pengelolaan sumber-sumber yang mengarah
pada perkembangan hasil atau produk. Dalam ranah afektif, tingkat III mencakup
internalisasi (pemribadian) nilai-nilai dan sistem nilai, keterikatan dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang produktif, dan upaya untuk mencari
pengungkapan (aktualisasi) diri dalam hidup.
![]() |
Kognitif
- Pengajuan pertanyaan
secara mandiri
- Pengarahan diri
- Pengelolaan sumber
- Pengembangan Produk.
![]() |
Kognitif
- Penerapan
- Analisis
- Sintesis
- Evaluasi
- Keterampilan metodologis
dan penelitian
- Transormasi
- Metafor
dan analog
Kognitif
-Kelancaran
-Kelenturan
-Orisinalitas
-Pemerincian
-Pengenalan dan ingatan
Afektif
- Pemribadian nilai
- Peningkatan diri
terhadap hidup
produktif
- Menuju
perwujudan diri
Afektif
-Keterbukaan terhadap
Perasaan
-perasaan mamejuk
-Meditasi dan kesantaian
-Pengembangan nilai
-Keselamatan psikologis
dalam berkreasi
-Penggunaan khayalan
dan tamsil
Afektif
-Rasa ingin tahu
-Kesediaan
untuk menjawab
-Keterbukaan terhadap pengalaman
-Keberanian mengambil
risiko
-Kepekaan terhadap
masalah
-Tenggang rasa
-Peraya diri
2. MENGAJAR KREATIF
a.
Pengertian
Definisi
mengajar adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain
(Hoetomo,MA,1999) sedangkan Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum (2010) Kreativitas
ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa
gaya hidup, gagasan, proses maupun karya
nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. sedangkang
menurut Fuad Anshori ( " Mengembangkan kreativitas
dalam perspektif psikologi islam".Yogyakarta:Menara kudus, 2002, h.
33 18) Kreativitas meliputi baik ciri-ciri kognitif (aptitude)
seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas).
b. Teknik
Mengajar Kreatif
1.
Melakukan Pemanasan
Cara
yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan
mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam
jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa
mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka
1. Menyelesaikan sesuatu
yang telah dimulai
2. Mencari penggunaan
baru dari benda sehari-hari
3. Meningkatkan atau
memperbaiki suaut produk atau benda
(Munandar, 1999 :
100-1003).
2.
Pemikiran & Perasaan Terbuka
Teknik pemikiran dan
perasaan berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong
memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara
mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan
dan pikiran sebagai jawaban.
3. STRATEGI BELAJAR KREATIF
Pembelajaran
kreatif menekankan pada pengembangan kreatifitas, baik pengembangan kemampuan
imajinasi dan daya cipta (mengarang, membuat kerajinan tangan, mempraktekkan
kesenian dll) maupun pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Pembelajaran di SD/MI pada umumnya masih mengupayakan
pengembangan kemampuan berpikir rasional logis. Dalam hal ini, guru sebagai
fasilitator dituntut untuk senantiasa kreatif dalam merancang pembelajaran,
serta memiliki beragam strategi pembelajaran yang digunakan agar pembelajaran
tersebut memenuhi beragam tingkat kemampuan siswa di kelas. Pengetahuan siswa
yang diperoleh dalam hal ini berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan
ditransfer pengetahuan dari guru.
4.MENGANALISA SARAN-SARAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM
BELAJAR KREATIF
1. Memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memahami konsep- konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan.
2.
Membuat
siswa aktif dalam pembelajaran.
3.
Mengembangkan
kemampuan berpikir siswa, karena disajikan masalah pada awal pembelajaran dan
memberikan keleluasaan kepada siswa untuk
mencari arah-arah penyelesaiannya sendiri.
4.
Mengembangkan
kemampuan siswa untuk mendefinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisis
data, membangun hipotesis dan percobaan untuk memecahkan suatu permasalahan.
5.
Membuat
siswa dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baru.
SUMBER :
Basuki,
A.M. Heru. Prof, Dr,Mpsi (2005). Kreativitas, Keberbakatan, Intelektual, Dan
Faktor-Faktor Pendukung Dalam Pengembangannya. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Dewi,
Laksmi dan Masitoh. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta :
Direktorat Jendral Pendidikan Islam.
Zaini,
Hisyam, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani. 2002. Strategi Pembelajaran
Aktif Di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD (Center for Teaching Staff
Development).
Mulyatininsih,
Endang. 2010. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan. Depok: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan.
Jasmine, Julia. 2007. Mengajar
Berbasis Multiple Intelegences. Bandung: Nuansa
Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat.
Jakarta: Rineka Cipta
Semiawan,
Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak
Berbakat. Jakarta: Gramedia
Siregar, Eveline dan Hartini Nara.
2010. Teori Belajad dan Pembelajaran.
Bogor: Ghalia Indonesia
Thobroni,
Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar
dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam
Pembangunan Nasional. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:
Universitas Terbuka


Tidak ada komentar:
Posting Komentar