NAMA : Wulan Sundari
NPM : 1C514329
KELAS : 3PA18
LOGO TERAPI (FRANKI)
Kata “logo” berasal dari bahasa
Yunani “logos” yang berarti makna atau meaning dan juga
“rohani”. Adapun kata “terapi” berasal dari bahasa Inggris therapy yang
artinya penggunaan teknik-teknik menyembuhkan dan mengurangi suatu penyakit.
Jadi, kata logoterapi artinya penggunaan teknik untuk
menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit melalui
penemuan makna hidup. Istilah tema utama logoterapi adalah
karakteristik eksistensi manusia, dengan makna hidup sebagai inti teori.
Dibawah ini akan di jelaskan lebih detail.
Konsep Dasar Pandangan Frankl
tentang Perilaku / Kepribadian
Pandangan Frankl tentang
kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja
ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur. Frankl
berpendapat manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan
setelah menemukan lalu mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan
mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani.
Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl Logoterapi.
Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni
Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan logoterapi,
manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan yang
dimaksud dalam freedom of will seperti:
- Kebebasan
yang bertanggungjawab.
-
Kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand)
atas kondisi-
kondisi tersebut.
- Kebebasan
untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam
hidupnya.
Kehendak Hidup Bermakna (The
Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada makna (the
will to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl,
1977). Dalam psikoanalisa memandang manusia adalah pencari kesenangan.
Pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut
logoterapi bahwa kesenangan merupakan efek dari pemenuhan makna, sedangkan
kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal makna, menurut
Frankl bersifat menarik dan menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya
menarik maka individu termotivasi untuk memenuhinya. Agar individu menjadi individu
yang bermakna, maka melakukan berbagai kegiatan yang syarat dengan makna.
Makna Hidup (The Meaning Of
Life)
Makna yaitu suatu hal yang
didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam
penderitaan. Makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup
bisa berbeda antara satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan
setiap jam. Karena itu, yang penting secara umum bukan makna hidup, melainkan
makna khusus dari hidup pada suatu saat tertentu. Setiap individu memiliki
pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas
tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu,
manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan
tugasnya (Frankl, 2004).
Unsur-unsur Terapi
Munculnya gangguan / kecemasan
Saat individu tidak memiliki
keinginan terhadap sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong setiap
manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan berarti dan
berharga. Menurut Frankl (2004) terdapat dua tahapan pada sindroma
ketidakbermaknaan, yaitu:
- Frustasi
eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga
kehampaan
eksistensial (exsistetial vacuum)
Menurut Koesworo,1992, exsistential
frustration adalah fenomena umum yang berkaitan dengan keterhambatan
atau kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna.
- Neurosis
noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu suatu manifestasi khusus
dari frustasi eksistensial yang ditandai dengan simptomatologi neurotik klinis
tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl menggunakan istilah ini untuk
membedakan dengan keadaan neurosis somatogenik, yaitu neurosis yang berakar
pada kondisi fisiologis tertentu dan neurosis psikogenik yaitu neurosis yang
bersumber pada konflik-konflik psikologis.
Tujuan terapi
· Memahami
adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal
ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan, dan agama yang dianutnya.
· Menyadari
bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat,
dan diabaikan, bahkan terlupakan.
· Memanfaatkan
daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak
kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk
meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Peran terapis
Terapis memberikan sugesti-sugesti terhadap klien, bahwa setiap manusia
mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam
hidupnya.
Teknik-teknik Terapi
Dalam logoterapi, klien diajarkan
bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus
diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah
menemukan sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita.Victor
Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail.
Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
- Intensi
paradoksal
Teknik intensi paradoksikal
adalah teknik dimana klien diajak melakukan sesuatu yang paradoks dengan sikap
klien terhadap situasi yang dialami. Jadi klien diajak mendekati dan mengejek
sesuatu (gejala) dan bukan menghindarinya atau melawannya. Teknik ini pada
dasarnya bertujuan lebih daripada perubahan pola-pola tingkah laku. Lebih baik
dikatakan suatu reorientasi eksistensial. Menurut logoterapi disebut
antagonisme psikonoetik yang mengacu pada kapasitas manusia untuk melepaskan
atau memisahkan dirinya tidak hanya dari dunia, tetapi juga dari dirinya
sendiri.
De-refleksi.
Frankl percaya sebagian besar
persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terfokus pada individu. Dengan
mengalihkan perhatian dari individu dan mengarahkannya pada orang lain,
persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, mengalami
masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan
tanpa memperdulikan kepuasan
individu atau cobalah tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga
diri pasangan.
RATIONAL EMOTIVE THERAPY
Konsep Dasar
Rational
Emotive Therapy adalah teori yang berusaha memahami manusia
sebagaimana adanya. Manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar
akan objek-objek yang dihadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan
berkembang dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang berarti manusia
bebas, berpikir, bernafas, dan berkehendak. Yang dimaksud dengan konseling Rational
Emotive Therapy adalah konseling yang menekankan interaksi berfikir
dan akal sehat (rational thingking),
perasaan (emoting), dan berperilaku (acting). Teori ini menekankan
bahwa suatu perubahan yang mendalam terhadap cara berpikir dapat menghasilkan
perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari
konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah
laku individu, yaituAntecedent event (A), Belief (B),
dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang
kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Makalah ini memberikan
rincian penting tentang bagaimana A, B, dan C, serta kognisi, emosi, dan
perilaku semua penting mempengaruhi satu sama lain dan bagaimana mereka menjadi
digabungkan menjadi disfungsional, Asumsi inti menuntut Dasar filsafat yang
mengarah pada gangguan neurotik. Untuk mengubah dan terus berubah asumsi dasar
disfungsional, Rational Emotive Therapymenggunakan sejumlah teknik
intelektual, afektif, dan tindakan yang sering diterapkan secara kuat,
terus-menerus, aktif-direktif. Hal ini lebih kognitif daripada kebanyakan
kognitif-perilaku terapi lain yang mencoba untuk membantu banyak (tidak semua)
klien untuk membuat perubahan filosofis elegan atau mendalam.
1. Antecedent event (A)
yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa
pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain.
Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon
karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
2. Belief (B) yaitu
keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu
peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational
belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional
belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau
sistem keyakinan yang tepat,
masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi produktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan
keyakinan atau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal,
emosional, dan kerana itu tidak produktif.
3. Emotional consequence (C)
merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam
bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya denganantecendent
event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A
tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik
yang rB maupun yang iB.
4. D (disputing intervention)
adalah yang meragukan atau membantah. Pada isensinya merupakan aplikasi dari
metode ilimiah untuk menolong klien membantah keyakinan irasional. Ellis dan
Bernard melukiskan tiga komponen dari proses membantah ini:
Pertama: klien belajar cara mendeteksi keyakinan irasional mereka, terutama
kemutlakan seharusnya dan harus, sifat berlebihan, dan pelecehan pada diri
sendiri.Kedua: klien memperdebatkan keyakinan yang disfungsional
itu dengan belajar cara mempertanyakan semua itu secara logis dan empiris dan
dengan sekuat tenaga mempertanyakan kepada diri sendiri serta berbuat untuk
tidak mempercayainya.
Ketiga: klien belajar untuk mendiskriminasikan keyakinan yang irasional dan
rasional.
5. E (effect) adalah
falsafah efektif, yang memiliki segi praktis. Falsafah rasional yang baru dan
efektif terdiri dari menggantikan yang tidak pada tempatnya dengan yang cocok.
Apabila itu berhasil maka akan tercipta F atau new feeling .
6. F (new feeling) adalah perangkat perasaan yang baru. Kita
tidak lagi merasakan cemas yang sungguh-sungguh, melainkan kita mengalami
segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.
Teknik-Teknik dalam Proses Konseling Rasional
Emotif
1. Teknik Konseling
Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang
bersifat afektif, behavioristik, dan kognitif yang disesuaikan dengan kondisi
klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive Teknik yang
digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara
terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.
Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. 1. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk
secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.
Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
Konselor :
“Kamu pasti bisa untuk menjadi seorang polisi itu masih banyak kesempatan untuk
memperbaikinya ”
Klien :
“Iya Bu, tetapi bagaimana caranya?”
Konselor :”Kamu
bisa melakukan dan mempersiapkannya lagi lebih matang dan lebih siap seperti
latihan fisik”
Klien :”Iya
Bu, saya akan berusaha untuk mempersiapkan semuanya lagi lebih siap lagi”
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan
(perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian
rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui
peran tertentu.
Konselor :”Disini
nanti kita akan bermain peran, dimana kamu dapat mengungkapkan kekecewaan
kamu dan kemauan kamu
demi masa depan kamu nantinya”
Klien :”Terus
apa yang harus saya lakukan Bu?”
Konselor :”Kamu
bisa menganggap saya sebagai orang yang ingin kamu marahi, dan katakan semua
yang ingin kamu
ungkapkan selama ini”
Klien :”Baik
Bu, saya mengerti”
c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku
tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri
yang negatif.
Konselor :”Coba
kamu lihat desandry yang ga pernah patah semangat untuk cita-citanya walaupun gagal
berkali-kali dia terus mencoba
Klien :”Apakah
saya bisa sabar seperti desandry bu?”
Konselor :“Kamu
pasti bisa untuk sabar dalam menghadapi kenyataan seperti halnya desandry”
2. Teknik-teknik Behavioristik
a. Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan
logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman
(punishment). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan
yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang
positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien
akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b. Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik
ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan
dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan
menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah
tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
3. Teknik-teknik Kognitif
Terapis kognitif memperlakukan
klien mereka dengan terapi yang disebut restrukturisasikognitif. Hal
ini juga disebut reframing kognitif. Klien yang memiliki
pikiran irasionaldiajarkan untuk melihat situasi mereka dari perspektif
yang berbeda. Albert Ellis memulaiterapi disebut rasional-emotif terapi. Dia
percaya bahwa emosi berada di balik pikiranirasional yang manusia miliki. Terapis kognitif akan berusaha
untuk mengubah cara klien mereka pikirkan atau rasakan jika pikiran
dan perasaan membawa mereka sRational Emotive Therapys dan cemas, memimpin
mereka untuk membuat keputusan yang buruk,atau melompat ke kesimpulan
yang salah.
a. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih,
membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut
pola tingkah laku yang diharapkan.
Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau
menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak
logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah
aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu
berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh
klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor
Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung
jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri,
pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
Konselor :”saya
akan memberikan kertas ini sama kamu dan kamu isi kolom yang kosong dengan
memberikan kata “ya” atau “tidak”, lalu kamu tunjukkan kertas ini pada saat
kamu bertemu dengan saya, tujuannya yaitu agar kamu dapat melatih sikap kamu
menjadi lebih baik”
Klien :“Iya
Bu, saya mengerti”
b. Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah
laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau
meniru model-model sosial.
Maksud utama teknik latihan asertif adalah :
· mendorong kemampuan
klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya;
· membangkitkan
kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau
memusuhi hak asasi orang lain;
· mendorong klien
untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan meningkatkan kemampuan
untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.
Konselor :”Ayo,
kamu pasti bisa mengungkapkan semua perasaan kamu, anggaplah saya sebagai orang
yang ingin kamu marahi dan katakan semua kekecewaan kamu dan keinginan kamu”
Klien :”Saya
kurang yakin untuk melakukan hal itu.”
Konselor :”Setelah
kamu mengungkapkan semuanya maka paling tidak kamu bisa merasa tenang”
Klien :”Iya
Bu, akan saya coba”
TERAPI KELOMPOK
Terapi Kelompok (Group Therapy)
1. Konsep Terapi Kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan antara satu
dengan yang lainnya, saling ketergantungan serta mempunyai norma yang sama.
Kelompok terapeutik memberi kesempatan untuk saling bertukar (sharing)
tujuan, misalnya membantu individu yang berperilaku destruktif dalam
berhubungan dengan orang lain, mengidentifikasi dan memberikan alternatif untuk
membantu merubah perilaku destruktif menjadi konstruktif.
Menurut Yosep (2007), terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang
dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain
yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapis atau petugas kesehatan jiwa
yang telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan
secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan
interpersonal.
Terapi kelompok mirip dengan masalah-masalah yang ditangani oleh terapi
individu seperti konseling. Yang membedakan dengan terapi individu adalah
pendekatannya. Terapi kelompok tidak menggunakan pendekatan yang bersifat
perseorangan, melainkan menggunakan kelompok sebagai media penyembuhan.
Individu-individu yang mengalami masalah sejenis disatukan dalam kelompok
penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi dengan dibimbing atau didampingi oleh
terapis. Oleh karena itu perlu diperhatikan mengenai komponen kelompok dalam
terapi kelompok. Dalam Sari (2015) menyebutkan komponen tersebut antara lain:
a. Struktur kelompok
Stuktur kelompok menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan
keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga
stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam
elompok diatur dengan adanya pimpinan dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh
pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.
b. Besar kelompok
Menurut Wartono (dalam Yosep, 2007), jumlah ideal anggota kelompok adalah
tujuh sampai delapan orang. Jumlah minimum angota kelompok berkisar empat dan
jumlah maksimun adalah sepuluh orang. Jika anggota kelompok terlalu besar
akibatnya tidka semua anggota kelompok memndapatkan kesempatan mengungkapkan
perasaan, mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Jika terlalu kecil makan
tidak cukup variasi informasi dan intreaksi yang terjadi.
c. Lamanya sesi
Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit untuk fungsi terapi
reandah, dan 60-120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi. Frekuensi
pertemuan dapat disesuaian dengan tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua
kali per minggu atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.
d. Komunikasi
Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobservasi dan
mengalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik
untuk memberikan kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang trejadi.
Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik
interpersonal, tingkat kompetis, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti
serta melaksanakan kegiatan.
e. Peran kelompok
Pemimpin (leader) harus memiliki kemammpuan dalam proses yang
terjadi pada kelompok, seperti adanya interupsi, peningkatan intonasi suara,
sikap menghakimi antara anggota kelompok selama interaksi berlangsung. Dengan
kata lian, pemimpin harus peka terhadap adanya konflik yang mungkin terjadi di
dalam kelompok.
f. Kekuatan kelompok
Kekeuatan kelompok adalah kemampuan anggota dalam memmpengaruhi jalannya
kegiatan kelompok. Untuk menetapkan kekuatan kelompok yang bervariasi
diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar siapa yang membuat
keputusan dalam kelompok.
g. Norma
Norma adalah standar perilaku dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku
kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan pada pengalaman masa lalu dan
saat ini. Pemahaman tentang norma berguna untuk mngetahui pengaruhnya terhadap
komunikasi dan interaksi dalam kelompok.
h. Kekohesifan
Kekohesifan adalah kekuatan antar anggota kelompok bekerjasama dalam
mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi naggota kelompok untuk tertarik dan puas
terhadap kelompoknya. Terapis perlu melakuakn upaya agar kekohesifan kelompok
dapat terwujud, selain mengelompokan anggota yang memiliki masalah yang sama.
Terapis juga menciptakan kekohesifan dengan cara mendorong kelompok untuk
berbicara satu sama lain. Kekohesifan dapat diukur melalui seberapa sering
antar anggota memberi pujian dan mengungkapkan kekaguman satu sama lain.
Teknik Terapi Kelompok
Ada beberapa bentuk khusus terapi kelompok, antara lain :
a. Psikodrama
Psikodrama merupakan suatu bentuk terapi kelompok, yang dikembangkan oleh
J.L. Moreno pada tahun 1946, dimana pasien didorong untuk memainkan suatu peran
emosional di depan para penonton tanpa dia sendiri dilatih sebelumnya. Tujuan
dari psikodrama ini adalah membantu seorang pasien atau kelompok pasien untuk
mengatasi masalah-masalah pribadi dengan menggunakan permainan drama, peran, atau
terapi tindakan. Lewat cara-cara ini pasien dibantu untuk mengungkapkan
perasaan-perasaan tentang konflik, kemarahan, agresi, perasaan bersalah, dan
kesedihan. Sama dengan Freud, Moreno melihat emosi-emosi yang terpendam dapat
dibongkar (kompleks-kompleks emosional dihilangkan dengan membawanya ke
kesadaran, dan membuat energi emosional diungkapkan/katarsis).
Metode psikodrama yang sangat Penting. Seperti yang dikembangkan dan
dipraktekkan oleh Moreno, psikodrama menggunakan tempat yang menyerupai panggung.
Hal ini bertujuan supaya pasien memainkan peran di alam khayal, dengan demikian
ia merasa bebas mengungkapkan sikap-sikap yang terpendam dan motivasi-motivasi
yang kuat. Ketika peran dimainkan, implikasi-implikasi realistic dan tingkah
lakunya yang dramatis menjadi jelas. Keterampilan terampis dalam mengenal dan
menafsirkan dinamika yang diungkapkan memudahkan proses terapi. Ada tiga tahap
yang penting dalam psikodrama:
1) Tahap pelaksanaan, dimana subjek
memerankan khayalan-khayalannya.
2) Tahap penggantian, dimana orang-orang
yang sebenarnya menggantikan orang-orang yang dikhayalkan subjek.
3) Tahap penjernihan, dimana diadakan
pengalihan dari kontak individu-individu pengganti ke kontak dengan
individu-individu di mana subjek memiliki kesempatan menyesuaikan diri dengan
mereka dalam kehidupan yang nyata.
Sebaliknya, Whittaker memberikan suatu gambaran singkat tentang bagaimana
sebaiknya psikodrama itu dilaksanakan. Dia mengemukakan bahwa psikodrama
menggunakan 4 instrument utama, yaitu:
1) Panggung, yang merupakan ruang
kehidupan psikologis dan fisik bagi subjek atau pasien.
2) Sutradara atau pekerja.
3) Staf dari ego-ego penolong (auxiliary
ego) atau penolong-penolong teraupetik.
4) Para penonton.
Ego-ego penolong maupun para penonton terdiri dari anggota-anggota kelompok
lain. Strateginya adalah memberi kemungkinan kepada subjek untuk memproyeksikan
dirinya kedalam dunianya sendiri dan membangkitkan respon-respon dari
kawan-kawan anggota kelompoknya sendiri. Selanjutnya, Whittaker mengemukakan 4
teknik yang bisa digunakan, yaitu:
1) Presentasi diri. Pasien
mempresentasikan dirinya sendiri atau seorang figur yang penting dalam
kehidupannya.
2) Memimpin percakapan sendiri. Pasien
melangkah keluar dari drama dan berbicara pada dirinya sendiri dan kepada
kelompoknya.
3) Teknik ganda. Seorangg ego penolong
berperan bersama dengan pasien dan melakukan segala sesuatu yang dilakukan
pasien pada waktu yang sama.
4) Teknik cermin. Seorang ego penolong
berperan sejelas mungkin menggantikan pasien. Dari para penonton, pasien
memperhatikan bagaimana dia melihat dirinya sendiri sebagaimana orang-orang
lain melihatnya.
Sutradara atau pekerja berfungi baik sebagai produser maupun sebagai
terapis. Sebagai produser, ia memilih dan mengatur adegan-adegan yang juga
memimpin tindakan (perbuatan) psikodramatis. Adegan-adegan dipilih berdasarkan
situasi-situasi yang mengandung muatan emosional bagi pasien atau berdasarkan
situasi-situasi dimana pasien bertingkahlaku tidak tepat atau tidak efektif
dalam situasi-situasi seperti itu. Sebagai terapi, pekerja (sutradara)
memberikan dukungan atau klarifikasi kepada para actor, dan kadang-kadang
memberikan penafsiran (sering dengan bantuan para anggota kelompok lain)
tentang adegan permainan itu.
Belakangan ini psikodrama dilakukan oleh orang-orang yang mempraktekkan
bermacam-macam teori psikoterapi. Khususnya, para terapis Gestalt menggunakan
psikodrama secara luas. Psikodrama juga digunakan dalam terapi perkawinan,
dalam terapi anak-anak, penyalahgunana-penyalahgunaan obat bius dan alcohol, orang-orang
yang mengalami masalah-masalah emosional, di lingkungan penjara, untuk melatih
para psikiater dirumah sakit, untuk melatih orang-orang yang cacat, di
perusahaan dan industri, dan dalam pendidikan serta dalam mengambil keputusan.
Kegunaan psikodrama adalah dengan mendramatisir konflik-konflik batinnya,
pasien dapat merasa sedikit lega dan dapat mengembangkan pemahaman (insight)
baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya dalam kehidupan yang
nyata.
b. Role playing (bermain
peran)
Memainkan peran adalah suatu variasi dari psikodrama yang tidak menggunakan
alat-alat sandiwara (drama). Taknik ini banyak digunakan untuk mendorong pasien
berbicara dan mengembangkan persepsi-persepsi baru dalam berbagai situasi
kelompok, misalnya diruang kelas, program-program hubungan manusia dalam bidang
usaha dan industri, dan pertemuan-pertemuan latihan (training)
c. Encounter groups
Encounter groups adalah bentuk-bentuk khusus dari terapi
kelompok yang muncul dari gerakan humanistik pada tahun 1960-an. Encounter
groups bertujuan untuk membantu mengembangkan kesadaran diri dengan
berfokus pada bagaimana para anggota kelompok berhubungan satu sama lainalam
suatu situasi diaman di dorong untuk mengungkapkan perasaan secara terus
terang. Encounter groups tidak berlaku bagi orang yang
mengalami masalah-masalah psikologis yang berat, tetapi hanya ditujukan kepada
orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, berusaha memajukan pertumbuhan
pribadi, meningkatkan kesadaran mengenai kebutuhan-kebutuhan dan
perasaan-perasaan mereka sendiri serta cara-cara mereka berhubungan dengan
orang lain.
Encounter groups berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini
melalui pertemuan-pertemuan yang intensif atau konfrontasi-konfrontasi langsung
dengan orang-orang baru. Beberapa kelompok dibentuk sebagai kelompok-kelompok
marathon yang mungkin berlangsung terus-menerus selama 12 jam atau lebih.
Karena bertolak dari pendekatan humanistik,encounter groups, menekankan
interaksi-interaksi yang terjadi ditempat ini dan kini.
Fokus dari encounter groups adalah mengungkapkan
perasaan-perasaan yang asli dan bukan menafsirkan atau membicarakan masa
lampau. Apabila seorang anggota kelompok dipersepsikan oleh orang lain
bersembunyi di belakang kedok atau topeng sosial, maka orang lain berusaha
sedemikian rupa supaya orang tersebut membuka kedok itu, dan dengan demikian
mendorong orang itu untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang sebenarnya.
Teknik konfrontasi ini dapat merusak bila para anggota kelompok memaksa
mengungkapkan dengan terlalu cepat perasaan-perasaan pribadi orang itu yang
belum mampu ditanganinya atau bila orang itu merasa diserang atau
dikambinghitamkan oleh orang lain dalam kelompok. Para pemimpin kelompok yang
bertanggungjawab tetap berusaha mengendalikan kelompok itu untuk mencegah
penyalahgunaan tersebut dan mempertahankan kelompok itu bergerak kearah yang
memudahkan pertumbuhan pribadi dan kesadaran diri.
Unsur-unsur terapi:
a. Munculnya gangguan
Terapi kelompok digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu.
b. Tujuan terapi
- Meningkatkan identitas diri
- Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok terapis
- Meningkatkan keterampilan hubungan sosial
- Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
c. Peran terapis
Terapis harus memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.
TERAPI PERILAKU
KONSEP-KONSEP UTAMA
PANDANGAN TENTANG SIFAT
MANUSIA
Behaviorisme adalah suatu
pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya adalah bahwa
tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan
menyingkapkan hokum-hukum yang mengendalikan tingkah laku.
Setiap orang dipandang memiliki
kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada
dibentuk dan ditentukan oleh lingkunga social budayanya. Segenap tingkah laku
manusia itu dipelajari. Meskipun berkeyakinan bahwa segenap tingkah laku pada
dasarnya merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan lingkungan dan factor genetic,
para behavioris memasukkan pembuatan putusan sebagai salah satu bentuk tingkah
laku.
Pandangan “behaviorisme radikal”
tidak memberi tempat kepada asumsi yang menyebutkan bahwa tingkah laku manusia
dipengaruhi oleh pilihan dan kebebasan. Filsafat behavioristik radikal menolak
konsep tentang individu sebagai agen bebas yang membentuk nasibnya sendiri.
Situasi-situasi dalam dunia objektif masa lampau dan hari ini menentukan
tingkah laku. Lingkungan adalah pembentuk utama keberadaan manusia.
Marquis (1974) menyatakan bahwa
terapi tingkah laku itu mirip keahlian teknik dalam arti ia menerapkan
informasi-informasi ilmiah guna menemukan pemecahan-pemecahan teknis atas
masalah-masalah manusia. Jadi, behaviorisme berfokus pada bagaimana orang-orang
belajar dan kondisi-kondisi apa saja yang menentukan tingkah laku manusia.
Ciri-ciri unik terapi tingkah
laku
Terapi tingkah laku, berbeda
dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya, ditandai oleh: (a) pemusatan
perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik, (b) kecermatan dan
penguraian tujuan-tujuan treatmen, (c) perumusan prosedur treatmen yang
spesifik yang sesuai dengan masalah, dan (d) penaksiran objektif atas
hasil-hasil terapi.
Terapi tingkah laku tidak
berlandaskan sekumpulan konsep yang sistematik, juga tidak berakar pada suatu
teori yang dikembangkan dengan baik. Sekalipun memiliki banyak teknik, terapi
tingkah laku hanya memiliki sedikit konsep. Terapi ini merupakan suatu
pendekatan induktif yang berlandaskan eksperimen-eksperimen dan menerapkan
metodeeksperimental pada proses terapeutik.
Pada dasarnya, terapi tingkah
laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru,
penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan
tingkah laku yang diinginkan. Pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan
treatment dispesifikasi, sedangkan pernyataan yang bersifat umum tentang tujuan
ditolak. Klien diminta untuk menyatakan dengan cara-cara yang kongkret
jenis-jenis tingkah laku masalah yang dia ingin mengubahnya. Setelah
mengembangkan pernyataan pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan treatment,
terapis harus memilih prosedur-prosedur
PENGKONDISIAN KLASIK VS
PENGKONDISIAN OPERAN
Dua aliran utama membentuk esensi
metode-metode dan teknik-teknik pendekatan terapi yang berlandaskan teori
belajar, pengondisian klasik dan pengondisian operan. Pengondisian klasik, atau
disebut pengondisian responden, berasal dari karya Pavlov. Pada dasarnya
pengondisian klasik itu melibatkan stimulus tak berkondisi (UCS) yang secara
otomatis membangkitkan respons berkondisi (CR), yang sama dengan respons tak
berkondisi (UCR) apabila diasosiasikan dengan stimulus tak berkondisi. Jika UCS
dipasangkan dengan suatu stimulus berkondisi (CS), lambat lau CS mengarahkan
kemunculan CR.
Rancangan pengondisian klasik
Pengondisian operan, satu aliran
utama lainnya dari pendekatan terapi yang berlandaskan teori belajar,
melibatkan pemberian ganjaran kepada individu atas pemunculan tingkah lakunya
(yang diharapkan) pada saat tingkah laku itu muncul. Pengondisian operan ini
dikenal juga dengan sebutan pengondisian instrumental karena memperlihatkan
bahwa tingkah laku instrumental bias dimunculkan oleh organism yang aktif
sebelum perkuatan diberikan untuk tingkah laku tersebut. Skinner, yang dianggap
sebagai pencetus gagasan pengondisian operan, telah mengembangkan
prinsip-prinsip perkuatan yang digunakan pada upaya memperoleh pola-pola
tingkah laku tertentu yang dipelajari. Dalam pengondisian operan, pemberian
perkuatan positif bias memperkuat tingkah laku. Tingkah laku berkondisi muncul
di lingkungan dan instrumental bagi perolehan ganjaran.
Banyak teknik dan prosedur
modifikasi tingkah laku yang berasal dari model pengondisian operan.
Contoh-contoh prosedur yang spesifik yang berasal dari pengondisian operan
adalah perkiatan positif, penghapusan, hukuman, pencontohan, dan penggunaan token
economy. Teknik-teknik terapeutik tersebut akan diungkap lebih lanjut
pada bagian lain dari bab ini.
TEKNIK-TEKNIK UTAMA TERAPI
TINGKAH LAKU
Desensitiasi sistematik
Desensitiasi sistematik adalah
salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam terapi tingkah laku.
Desensitiasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat
secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respons yang
berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitiasi
diarahkan ada mengejar klien untuk menampilkan suatu respons yang tidak
konsisten dengan kecemasan.
Wolpe (1958, 1969), pengembang
teknik desensitiasi, mengajukan argumen bahwa segenap tingkah laku neurotik
adalah ungkapan dari kecemasan dan bahwa respons kecemasan bisa dihapus oleh
penemuan respons-respons yang secara inheren berlawanan dengan respons
tersebut. Dengan pengkondisian klasik, kekuatan stimulus penghasil kecemasan
bisa dilemahkan, dan gejala kecemasan bisa dikendalikan dan dihapus melalui
penggantian stimulus.
Desensitiasi sistematik juga
melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih untuk santai dan
mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit
kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan dalam
suatu rangkaian dari yang sangat tidak mengancam kepada yang mengancam.
Tingkatan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dipasangkan secara
berulang-ulang dengan stimulus-stimulus penghasil keadaan santai sampai kaitan
antara stimulus-stimulus penghasil kecemasan dan respons kecemasan itu
terhapus. Dalam teknik ini, Wolpe telah mengembangkan suatu respons yakni
relaksasi, yang secara fisiologis bertantangan dengan kecemasan yang secara
sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam.
Prosedur model pengkondisian balik ini adalah sebagai berikut :
1. Desensitiasi
sistematik dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus
yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu seperti
penolakan, rasa iri, ketidaksetujuan, atau suatu fobia. Disediakan waktu untuk
menyusun suatu tingkatan kecemasan-kecemasan klien dalam waktu tertentu.
Terapis menyusun suatu daftar bertingkat mengenai situasi-situasi yang
kemunculannya meningkatkan taraf kecemasan atau penghindaran. Tingkat dirancang
dalam urutan dari situasi yang paling buruk yang bisa dibayangkan oleh klien ke
situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya lebih rendah.
2. Selama
pertemuan-pertemuan terapeutik pertama klien diberi latihan relaksasi yang
terdiri atas kontraksi, dan lambat laun pengenduran otot-otot yang berbeda
sampai tercapai suatu keadaan santai penuh. Sebelum latihan relaksasi dimulai,
klien diberi tahu tentang cara relaksasi yang digunakan dalam desensitiasi,
cara menggunakan relaksasi itu dalam kehidupan sehari-hari, dan cara
mengendurkan bagian-bagian tubuh tertentu. Latihan relaksasi berlandaskan
teknik yang digariskan oleh Jacobsen (1938) dan uraikan secara rinci oleh Wolpe
(1969). Pemikiran dan pembayangan situasi-situasi yang membuat santai
seperti duduk dipinggir danau atau berjalan jalan di taman yang indah, sering
digunakan. Hal yang penting adalah bahwa klien mencapai keadaan tenang dan
damai. Klien diminta untuk mempraktekan relaksasi diluar pertemuan terapeutik,
sekitar 30 menit lamanya setiap hari. Apabila klien telah bisa belajar untuk
santai dengan cepat, maka prosedur desensitisasi bisa dimulai.
3. Proses
desensitisasi melibatkan keadaan dimana klien sepenuhnya santai dengan mata
tertutup. Terapis menceritakan serangkaian situasi dan meminta klien untuk
membayangkan dirinya berada dalam setiap situasi yang diceritakan oleh terapis
itu. situasi yang netral diungkapkan, dan klien diminta untuk membayangkan
dirinya berada didalamnya. Jika klien mampu tetap santai maka dia diminta untuk
membayangkan suatu situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya paling
rendah. Terapis bergerak mengungkapkan situasi-situasi secara bertingkat sampai
klien menunjukkan bahwa dia mengalami kecemasan, dan pada saat itulah
pengungkapan situasi berakhir. Kemudian relaksasi dimulai lagi dan klien
kembali membayangkan dirinya berada dalam situasi-situasi yang diungkapkan oleh
terapis.Treatment dianggap selesai apabila klien mampu untuk tetap
santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan
menghasilkan kecemasan.
Desensitisasi sistematik adlah
teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia, tetapi keliru apabila menganggap
teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan ketakutan-ketakutan.
Desensitisasi sistematik bisa diterapkan secara efektif oada berbagai situasi
penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi
ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotik,
serta impotensi dan frigiditas seksual.
Wolpe (1969) mencatat tiga
penyebab kegagalan dalam pelaksanaan desensitisasi sistematik :
1. Kesulitan-kesulitan
dalam relaksasi, yang bisa jadi menunjuk pada kesulitan-kesulitan dalam
komunikasi antara terapis dan klien atau kepada keterhambatan yang ekstrem yang
dialami oleh klien.
2. Tingkatan-tingkatan
yang menyesatkan atau tidak relevan, yang ada kemungkinan melibatkan penanganan
tingkatan yang keliru.
3. Ketidakmadaian
dalam membayangkan.
Bagaimana penerapan desensitisasi
pada terapi kelompok? Shaffer dan Galinsky (1974), dalam pembahasannya tentang
terapi tingkah laku kelompok, menunjukan bahwa belum ada keterangan yang muncul
tentang model kelompok. Pendekatan-pendekatan terapi tingkah laku kelompok
secara khas memperkenalkan prosedur-prosedur terapi tingkah laku yang
berorientasi individual ke dalam setting kelompok. Pada
kelompok-kelompok yang menggunakan prosedur desensitisasi sistematik,
teknik-teknik individual diterapkan langsung pada kelompok.
Prosedur kelompok dianjurkan pula
bagi para klien yang mengalami kecemasan berada dalam situasi-situasi yang
spesifik. Kelompok biasanya terdiri atas para partisipan yang memiliki
ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan yang sama. Iklim kelompok dipandang
sebagai agen yang suportif dan memperkuat. Para anggota kelompok saling
memberikan dukungan dalam kegiatan-kegiatan pengambilan resiko, didalam maupun
diluar kelompok, dan perkuatan diberikan bagi keberhasilan-keberhasilan.
Terapi implosif dan
pembanjiran
Teknik-teknik pembanjiran
berlandaskan paradigma mengenai penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri
atas pemunculan stimulus terkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian
perkuatan. Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik desensitisasi sistematik
dalam arti teknik pembanjiran tidak menggunakan agen pengkondisian balik maupun
tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan,
klien membayangkan situasi dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien.
Stampfl (1975) mengembangkan
teknik yang berhubungan dengan teknik pembanjiran, yang disebut “terapi
implosif”: seperti halnya dengan desensitisasi sistematik, terapi implosif
berasumsu bahwa tingkah laku neurotik melibatkan penghindaran terkondisi atas
stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Terapi implosif berbeda dengan
desensitisasi sistematik dalam usaha terapis untuk menghadirkan luapan emosi
yang masif. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang
secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan
konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan tereduksi
atau terhapus. Klien diarahkan untuk membayangkan situasi-situasi
(Stimulus-stimulus) yang mengancam. Dengan secara berulang-ulang dan
dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan
dan menakutkan tidak muncul, stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya
menghasilkan kecemasannya, dan penghindaran neurotik pun terhapus.
Stampfl (1975) mencatat beberapa
contoh bagaimana terapi implosif berlangsung. Ia melukiskan seorang klien yang
mengalami kecenderungan-kecenderungan obsesif pada kebersihan. Klien mencuci
tangannya lebih dari seratus kali sehari dan memiliki ketakutan yang berlebihan
terhadap kuman prosedur-prosedur penanganan klien mencakup :
1. Pencarian
stimulus-stimulus yang memicu gejala-gejala.
2. Menaksir
bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu membentuk
tingkah laku klien.
3. Meminta
kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang dijabarkannya tanpa
disertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya
4. Bergerak
semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien dan meminta
kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya.
5. Mengulang
prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.
Stampfl (1975) juga mencatat
sejumlah studi yang membuktikan menajuran terapi implosif dalam menangani para
pasien gangguan jiwa yang dirumahsakitkan, para pasien neurotik, para pasien
psikotik, dan orang-orang yang menderita fobia. Stampfl menyatakan bahwa terapi
implosif berbeda dengan terapi-terapi konvensional dalam arti terapi implosif
tidak menekankan pemahaman sebagai agen terapeutik. Terapi implosif adalah
suatu metode langsung yang menantang pasien “untuk menatap mimpi-mimpi
buruknya”.
Latihan asertif
Pendekatan behavioral yang dengan
cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa diterapkan terutama
pada situasi-situasi interpersonal di mana individu mengalami kesulitan untuk
menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang
layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yang;
1. Tidak
mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung,
2. Menunjukan
kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya,
3. Memiliki
kesulitan untuk mengatakan “tidak”,
4. Mengalami
kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lainnya,
5. Merasa
tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Latihan asertif menggunakan
prosedur-prosedur permainan peran. Suatu masalah yang khas yang bisa
dikemukakan sebagai contoh adalah kesulitan klien dalam menghadapi atasannya di
kantor. Misalnya, klien mengeluh bahwa dia acap kali merasa ditekan oleh
atasannya untuk melakukan hal-hal yang menurutnya penilaiannya buruk dan
merugikan serta mengalami hambatan untuk bersikap tegas di hadapan atasannya
itu. Pertama-tama klien memainkan peran sebagai atasan, memberi contoh bagi
terapis, sementara terapis mencontoh cara berpikir dan cara klien menghadapi
atasan. Kemudian, mereka saling menukar peran sambil klien mencoba tingkah laku
baru dan terapis memainkan peran sebagai atasan.Klien boleh memberi pengarahan
kepada terapis tentang bagaimana memaiinkan peran sebagai atasannya secara
realistis, sebaliknya terapis melatih klien bagaimana bersikap tegas terhadap
atasan. Proses pembentukan terjadi ketika tingkah laku baru dicapai dengan
penghampiran-penghampiran. Juga terjadi penghapusan kecemasan dalam menghadapi
kecemasan dan sikap klien yang lebih tegas terhadap atasan menjadi lebih
sempurna.
Tingkah laku menegaskan diri
pertama-tama dipraktekkan dalam situasi permainan peran, dan dari sana
diusahakan agar tingkah laku menegaskan diri itu dipraktekan dalam
situasi-situasi kehidupan nyata.Terapis memberikan bimbingan dengan
memperlihatkan bagaimana dan bilamana klien bisa kembali kepada tingkah laku
semula, tidak tegas, serta memberikan pedomon untuk memperkuat tingkah laku
menegaskan diri yang baru diperolehnya.
Terapi kelomok latihan asertif
pada dasarnnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan
sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan
yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal.Fokusnya adalah
mempraktekkan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru
diperoleh sehingga individu-individu diharapkan mampu mengatasi
ketakmemandaiannya dan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan
pikiran-pikiran mereka secara lebih terbukan disertai keyakinan bahwa mereka
berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka itu.
Terapi aversi
Teknik-teknik pengondisian
aversi, telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan
behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik
dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak
diinginkan terhamabat kemunculannya.Stimulus-stimulus aversi biasanya berupa
hukuman dengan kejutan listrik atau pemebrian ramuan yang membuat mual.Kendali
aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai
bentuk hukuman.
Teknik-teknik aversi adalah
metode-metode yang paling kontroversional yang dimiliki oleh para behavioris
meskipun dugunakan secara luas sebagai metode-metode untuk membawa orang-orang
kepada tingkah laku yang diinginkan. Kondisi-kondisi diciptakan sehingga
orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari mereka dalam rangka menghindari
konsekuensi-konsekuensi aversif. Sebagai besar lembaga social mengunakan
prosedur-prosedur aversif untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk
membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan yang telah digariskan:
gereja menggunakan pengucilan, perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan dan
penangguaha pembayaran upah, sedangkan pemerintah menggunakan denda dan hukuman
penjara.
Kendali aversif acap kali
menandai hubungan orang tua-anak.Kendali-kendali bisa bekerja secara langsung
dan disadari, dan bisa pula secara tidak langsung terselubung.
Dalam setting yang lebih formal
dan terapeutik, teknik-teknik aversif sering dugunakan dalam pennanganan
berbagai tingkah laku yang maladaptive, sencakup minuman alcohol secara
berlebihan, ketergantungan pada obat bius, meroko, obsesi-obsesi,
komplusi-komplusi, fetisisme, berjudi, homoseksualitas, dan penyimpangan
seksual seperti pedofilia.
Butir yang penting adalah bahwa
maksud prosedur-prosedur aversif ialah menyajikan cara-cara menahan
respons-respons maladaptive dalam suatu periode sehingga terdapat kesempatan
untuk memperoleh tingkah laku alternative yang adaptif dan yang akan terbukti
memperkuat dirinya sendiri. Satu kesalahpahaman yang popular adalah bahwa
teknik-teknik yang berlandasan hukuman merupakan perangkat yang paling penting
bagi para terapis tingkah laku.Hukuman jangan sering digunakan meskipun mungkin
para klien sendiri menginginkan penghapusan tingkah laku yang tak diinginkannya
melalui pengunaan hukuman.Apa bila cara-cara yang merupakan alternative bagi
hukuman tersedia, maka hukuman jangan digunakan. Cara-cara yang positif yang
mengarah pada tingkah laku yang baru dan lebih layak harus dicari dan digunakan
sebelum terpaksa menggunakan pemerkuat-pemerkuat negatif.
Skinner (1948,1971) adalah salah
seorang tokoh yang terang-terangan menentang penggunaan hukuman sebagai cara
untuk mengendalikan hubungan-hubungan manusia ataupun untuk mencapai
maksud-maksud lembaga masyarakat. Menurut Skinner, perkuatan positif jauh lebih
efektif dalam mengendalikan tingkah laku karena hasil-hasilnya lebih dapat
diramalkan serta kemungkinan timbulnya tingkah laku yang tidak diinginkan akan
lebih kecil. Skinner (1984) berpendapat bahwa hukuman adalah sesuatu yang buruk
meskipun bisa menekan tingkah laku yang diinginkan, namun tidak melemahkan
kecenderungan untuk merespons bahkan kalaupun untuk sementara menekan tingkah laku
tertentu.Akibat-akibat yang tidak diinginkan, menurut Skinner, berkaitan dengan
penggunaan pengendalian aversif maupun penggunaan hukuman.
Apabila hukuman digunakan, maka
terdapat kemungkinan terbentuknya efek-efek samping emosional tambahan seperti:
1. Tingkah
laku yang tidak diinginkan yang dihukum boleh jadi akan ditekan hanya apabila
penghukum hadir
2. Jika
tidak ada tingkah laku yang menjadi alternetif bagi tingkah laku yang dihukum,
maka individu akan ada kemungkinan menarik diri secara berlebihan
3. Pengaruh
hukuman boleh jadi digeneralisasikan kepada tingkah laku lain yang berkaitan
dengan tingkah laku yang dihukum.
Jadi, seorang anak yang dihukum
karena kegagalannya di sekolah boleh jadi akan membenci semua pelajaran,
sekolah, semua guru, dan barangkali bahkan membenci belajar pada umumya.
Pengondisian operan
Tingkah laku operan adalah
tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif.Ia adalah tingkah
laku beroprasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.Tingkah laku
operan merupakan tingkah laku yang palling berarti dalam kehidupan sehari-hari,
yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan dengan alat-alat makan,
bermain, dan sebagainya. Menurut Skinner (1971), jika suatu tingkah laku
diganjar, maka probabilitas kemungkinan muncul kembali tingkah laku tersebut di
masa mendatang akan tinggi. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembenntukan,
pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari
pengkondisian operan.Berikut ini uraian ringkas dari metode-metode
pengkondisian operan yang mencakup penguatan positif, pembenntukan respons,
perkuatan intermiten, penghapusan, pencontohan, dan token economy.
Perkuatan positif
Pembentukan suatu pola tingkah
laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkh laku yang
diharapkan muncul adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku.
Pemerkuat-pemerkuat, baik primer maupun sekunder, diberikan untuk rentang
tingkah laku yang luas.Pemerkuat-pemerkuat primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan
fisiologis.Contoh pemerkuat primer adalah makan dan tidur atau
istirahat.Pemerkuat-pemerkuat sekunder, yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan
psikologis dan social, memiliki nilai karena bersosialisasi dengan
pemerkuat-pemerkuat sekunder. Penerapan pemeberian perkuatan positif pada
psikoterapi membutuhkan spesifikasi tingkah laku yang diharapkan, penemuan
tentang apa agen yang memperkuat bagi individu, dan penggunaan perkuatan positif
secara sistematis guna memunculkan tingkah laku yang diinginkan.
Pembentukan respons
Dalam pembentukan respons,
tingkah laku sekarang secara bertahap diubag dengan memperkuat unsur-unsur
kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut smapai
mendekati tingkah laku akhir.Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu
resspons yang pada mulanya tidak terdapat dalam perbendaharaan tingkah laku
individu. Perkuatan sering digunakan dalam proses pembentukan respons ini. Pada
anak autis yang tingkah laku motoric, verbal, emosional, dan sosialnya kurang
adaptif, terapis bisa membentuk tingkah laku yang lebih adaptif dengan
memberikan pemerkuat-pemerkuat perimer maupun sekunder.
Perkuatan intermiten
Disamping membentuk
perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memelihara tingkah laku yang
telah terbentuk.Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, terapis harus
memahami kondisi-kondisi umum di mana perkuatan-perkuatan muncul.Oleh
karenanya, jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Perkuatan
terus-menerus mengganjar tingkah laku setiap ia kali muncul. Sedangkan
perkuatan intermiten diberikan secara bervariasi kepada tingkah laku yang
spesifik.Tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang
terus-menerus.
Dalam menerapkan pemberian
perkuatan pada pengubahan tingkah laku, pada tahap-tahap permulaan terapis
harus mengganjar setiap terjadi munculya tingkah laku yang diinginkan.Jika
mungkin, perkuatan-perkuatan diberikan segera setelah tingkah laku yang diinginkan
itu muncul. Dengan cara ini, penerimaan perkuatan akan belajar, tingkah laku
spesifik apa yang diganjar. Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan
itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa
dikurangi.
Penghapusan
Apabila suatu respons
terus-menerus dibuat tanpa ada perkuatan, maka respons tersebut cenderung
menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari
cenderung meleha dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapus
tingkah laku maladaptive, adalah menarik perkuatan dari tingkah laku
maladaptive itu. Penghapusan dalam kasus semacam ini boleh terjadi lamban
karena tingkah laku yang akan dihapus telah diperliharan oleh perkuatan
intermiten dalam jangka waktu lama. Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian
emberian perkuatan harus serentak dan penuh. Misalnya, jika seorang anak
menunjukan kebandelan di rumah dan di sekoah, orang tua dan gru si anak bisa
menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk menghapus kebandelan anak tersebut.
Pada saat yang sama perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar
belajar tingkah laku yang diinginkan.
Percontohan
Dalam percontohan, individu
mengamati sebuah model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang
model. Bandura (1969) menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui
pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati
tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya. Jadi,
kecakapan-kecakapan social tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan
mencontoh tingkah aku model-model yang ada.
Token economy
Metode token economy dapat
digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan
pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberi pengaruh.Dalam token
economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan
yang bisa diraba (tanda-tanda seperti kepingan logam) yang nantinya bisa
ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini. Penggunaan
tanda-tanda sebagai pemerkuat-pemerkuat bagi tingkah laku yang layak memiliki beberapa keuntungan, yaitu;
1. Tanda-tanda
tidak kehilangan nialai insentifnya,
2. Tanda-tanda
bisa mengurangi penundaan yang ada di antara tingkah laku yang layak dengan
ganjarannya,
3. Tanda-tanda
bisa digunakan sebagai pengukur yang kongkret bagi motivasi individu untuk
mengubah tingkah laku tertentu,
4. Tanda-tanda
adalah bentuk perkuatan yang positif,
5. Individu
memiliki kesempatan untuk memutuskan bagaimana menggunakan tanda-tanda yang
diperolehnya,
6. Tanda-tanda
cenderung menjembatani kesenjangan yang sering muncul di antara lembaga dan
kehidupan sehari-hari.
Token economy merupakan salah satu contoh dari perkuatan yanf ekstrinsik, yang menjadikan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraih “pemikat di ujung tongkat”.Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsic. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru.
DAFTAR PUSTAKA
Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi
“Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan
Mental 3. Yogyakarta : Kanisius.
Videbeck, L.S. (2008). Keperawatan
Jiwa. Jakarta : Anggota IKAPI.
Latipun. (2001). Psikologi konseling. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang Press. Purwaningsih, W., & Karlina I. (2010). Asuhan
keperawatan jiwa. Jogjakarta: Nuha Medika.