Sabtu, 16 Mei 2015

softskill 3

MAKALAH
SOFTSKILL
“PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5VsooLNsKoOrAuTERpg2sCg4jEFKZjb4VTYGhihTfOCRvzXe9I1SEJ8G9dwUv-qPNW_-wq6060PWYgdyCgMRzk7Ake0BUWZ89qqeB6G-GGG8eyx7SZLNJOIZkWTqWln4do78iXiDx9Eo/s400/gundar.jpeg

DISUSUN OLEH KELOMPOK :
-             AGVA EKO SUTRIONO       (10514523)
-             NILAM SALAMAH HAMID            (1D514168)
-             WULAN SUNDARI                (1C514329)


KELAS 1PA18
FAKULTAS PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
MATA KULIAH : SOFTSKILL
DOSEN : NITA SRI HANDAYANI, SPsi



UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA 2014/2015







KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “perkembangan kreativitas dan keberbakatan”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Softskill.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. 
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
















1. BELAJAR KREATIF
a. Pengertian
kreativitas belajar dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk menciptakan hal-hal baru dalam belajarnya baik berupa kemauan mengembangkan  kemampuan formasi yang diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.

b. Liputan proses belajar kreatif
Secara fisikal, ada beberapa ciri menonjol yang tampak dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kratif adalah sebagai berikut.
1.      Mengandalkan buku sebagai satu-satunya sumber belajar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk lebih memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Bukan semata-mata untuk menjelekan sama sekali buku pelajaran sebagai salah satu sumber belajar peserta didik.
2.      Sumber belajar yang beraneka ragam tersebut kemudian didesain skenario pembelajarannya dengan berbagai kegiatan.
3.      Hasil kegiatan belajar mengajar kemudian dipajang di tembok kelas, papan tulis, dan bahkan ditambah dengan tali rapiah di sana-sini. Pajangan tersebut merupakan hasil diskusi atau hasil karya siswa.pajangan hasil karya siswa menjadi satu ciri fisikal yang dapat kita amati dalam proses pembelajaran.
4.      Kegiatan belajar mengajar bervariasi secara aktif, yang biasanya didominasi oleh kegiatan individual dalam beberapa menit, kegiatan berpasangan, dan kegiatan kelompok kecil antara empat sampai lima orang, untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah disepakati bersama, dan salah seorang di antaranya menyampaikan (presentasi) hasil kegiatan mereka di depan kelas. Hasil kegiatan siswa itulah yang kemudian dipajang.
5.      Dalam mengerjakan berbagai tugas tersebut, para siswa, baik secara individual maupun secara kelompok, mencoba mengembangkan semaksimal mungkin kreativitasnya.
6.      Dalam melaksanakan kegiatannya yang beraneka ragam itu, tampaklah antusiasme dan rasa senang siswa.
7.      Pada akhir proses pembelajaran, semua siswa melakukan kegiatan dengan apa yang disebut sebagai refleksi, yakni menyampaikan (kebanyakan secara tertulis) kesan dan harapan mereka terhadap proses pembelajaran yang baru saja diikutinya (Suparlan, 2008: 73)

c. Mengapa belajar kreatif itu penting ?
Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1.      Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2.      Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3.      Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4.      Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.

d. Tiga Tingkat Belajar Kreatif (model Triffinger)
 Model Treffinger untuk mendorong belajar kreatif merupakan salah satu dari sedikit model yang menangani masalah kreativitas secara langsung  dan memberikan saran-saran praktis  bagaimana mencapai keterpaduan.  Dengan melibatkan, baik ketrampilan kognitif maupun afektif pada setiap tingkat dari model ini, Treffinger menunjukkan saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mendorong belajar kreatif.


Di samping dalam proses belajar kreatif digunakan proses berfikir divergen (proses berfikir bermacam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) dan proses berfikir konvergen (proses berfikir yang mencari jawaban tunggal).

Pembelajaran kreatif model Treffinger ini dapat membantu siswa
untuk berfikir kreatif dalam memecahkan masalah, membantu siswa dalam menguasai konsep-konsep materi yang diajarkan, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan potensi-potensi kemampuan yang dimilikinya termasuk kemampuan kretivitas dan kemampuan pemecahan masalah.

Dengan kreativitas yang dimiliki siswa berarti siswa mampu menggali potensinya dalam berdaya cipta, menemukan gagasan, serta menemukan pemecahan atas masalah yang dihadapinya yang melibatkan proses berfikir.

Model untuk mendorong belajar kreatif dari Treffinger ini terdiri dari tiga tingkat atau tahap belajar kreatif, yaitu :

Tingkat I, adalah Basic Tools, yaitu tehnik-tehnik kreativitas tingkat I yang meliputi ketrampilan divergen dan tehnik-tehnik kreatif. Ketrampilan dan tehnik-tehnik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berfikir serta kesediaan mengungkapkan pemikiran kreatif kepada orang lain.



Tingkat II, adalah Practice With Process, yaitu tehnik kreativitas tingkat II yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis.

Pada tingkat ini, faktor-faktor pengenalan (kognitif) dan afektif dari tingkat I diperluas dan diterapkan. Segi pengenalan dari tingkat II ini meliputi penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. Segi afektif pada tingkat II mencakup keterbukaan terhadap perasaan-perasaan dan konflik yang majemuk, mengarahkan perhatian kepada masalah, penggunaan khayalan dan tamsil, dan kesantaian (relaxation), serta pengembangan “keselamatan” psikologis dalam berkreasi atau mencipta.
Untuk tujuan ini digunakan strategi seperti menggunakan metode sosiodrama, simulasi, dan studi kasus. Kemahiran dalam berfikir kreatif menuntut siswa memiliki ketrampilan untuk melakukan fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi, imajinasi, dan fantasi.

Tingkat III, adalah Working With Real Problems, yaitu tehnik-tehnik kreatif tingkat III yang menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada dua tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. Dalam ranah pengenalan (kognitif), hal ini berarti keterlibatan dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan mandiri dan yang diarahkan sendiri-sendiri. Belajar kreatif siswa mengarah pada identifikasi tantangan-tantangan atau masalah-masalah yang berarti, pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalah-masalah tersebut, dan pengelolaan sumber-sumber yang mengarah pada perkembangan hasil atau produk. Dalam ranah afektif, tingkat III mencakup internalisasi (pemribadian) nilai-nilai dan sistem nilai, keterikatan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang produktif, dan upaya untuk mencari pengungkapan (aktualisasi) diri dalam hidup.
Isosceles Triangle: Tingkat III
Keterlibatan dalam
tantangan-tantangan
nyata
 





Kognitif
                                               
- Pengajuan pertanyaan
   secara mandiri
- Pengarahan diri
- Pengelolaan sumber
- Pengembangan Produk.

Isosceles Triangle: Tingkat II Proses berfikir dan perasaan yang majemuk
 

Kognitif

- Penerapan
- Analisis
- Sintesis
- Evaluasi
- Keterampilan metodologis
  dan penelitian
- Transormasi
Isosceles Triangle: Tingkat I

Fungsi divergen

- Metafor dan analog


Kognitif

-Kelancaran
-Kelenturan
-Orisinalitas
-Pemerincian
-Pengenalan dan ingatan






Afektif

- Pemribadian nilai
- Peningkatan diri
 terhadap hidup
produktif
- Menuju perwujudan diri

Afektif

-Keterbukaan terhadap
Perasaan
-perasaan mamejuk
-Meditasi dan kesantaian
-Pengembangan nilai
-Keselamatan psikologis
dalam berkreasi
-Penggunaan khayalan
dan tamsil

Afektif
-Rasa ingin tahu
-Kesediaan untuk    menjawab
-Keterbukaan terhadap  pengalaman
-Keberanian mengambil
risiko
-Kepekaan terhadap
masalah
-Tenggang rasa
-Peraya diri








2. MENGAJAR KREATIF
a.      Pengertian
Definisi mengajar adalah memberikan petunjuk yang sebenarnya kepada orang lain (Hoetomo,MA,1999) sedangkan Kreativitas Menurut Jamridafrizal.S.A.g.S.S.M.Hum (2010) Kreativitas ialah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gaya hidup, gagasan, proses maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. sedangkang menurut Fuad Anshori ( " Mengembangkan kreativitas dalam perspektif psikologi islam".Yogyakarta:Menara kudus, 2002, h. 33 18) Kreativitas meliputi baik ciri-ciri kognitif (aptitude) seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas).

b.      Teknik Mengajar Kreatif
1.      Melakukan Pemanasan
Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka
1.      Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai
2.      Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari
3.      Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda
(Munandar, 1999 : 100-1003).

2.      Pemikiran & Perasaan Terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai jawaban.

3. STRATEGI BELAJAR KREATIF
Pembelajaran kreatif menekankan pada pengembangan kreatifitas, baik pengembangan kemampuan imajinasi dan daya cipta (mengarang, membuat kerajinan tangan, mempraktekkan kesenian dll) maupun pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Pembelajaran di SD/MI pada umumnya masih mengupayakan pengembangan kemampuan berpikir rasional logis. Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator dituntut untuk senantiasa kreatif dalam merancang pembelajaran, serta memiliki beragam strategi pembelajaran yang digunakan agar pembelajaran tersebut memenuhi beragam tingkat kemampuan siswa di kelas. Pengetahuan siswa yang diperoleh dalam hal ini berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan ditransfer pengetahuan dari guru.


4.MENGANALISA SARAN-SARAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR KREATIF

1.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep- konsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan.
2.      Membuat siswa aktif dalam pembelajaran.
3.      Mengembangkan kemampuan berpikir siswa, karena disajikan masalah pada awal pembelajaran dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mencari arah-arah penyelesaiannya sendiri.
4.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mendefinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisis data, membangun hipotesis dan percobaan untuk memecahkan suatu permasalahan.
5.      Membuat siswa dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baru.
































SUMBER :

Basuki, A.M. Heru. Prof, Dr,Mpsi (2005). Kreativitas, Keberbakatan, Intelektual, Dan Faktor-Faktor Pendukung Dalam Pengembangannya. Jakarta : Universitas Gunadarma.

Dewi, Laksmi dan Masitoh. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Islam.
Zaini, Hisyam, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani. 2002. Strategi Pembelajaran Aktif Di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD (Center for Teaching Staff Development).
Mulyatininsih, Endang. 2010. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Depok: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Jasmine, Julia. 2007. Mengajar Berbasis Multiple Intelegences. Bandung: Nuansa
Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta
Semiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Gramedia
Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2010. Teori Belajad dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia
Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
 Winataputra, Udin S dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka


softskill

MAKALAH
SOFTSKILL
“PENGEMBANGAN KREATIVITAS & KEBERBAKATAN”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5VsooLNsKoOrAuTERpg2sCg4jEFKZjb4VTYGhihTfOCRvzXe9I1SEJ8G9dwUv-qPNW_-wq6060PWYgdyCgMRzk7Ake0BUWZ89qqeB6G-GGG8eyx7SZLNJOIZkWTqWln4do78iXiDx9Eo/s400/gundar.jpeg

DISUSUN OLEH KELOMPOK :
-             AGVA EKO SUTRIONO       (10514523)
-             NILAM SALAMAH HAMID            (1D514168)
-             WULAN SUNDARI                (1C514329)


KELAS 1PA18
FAKULTAS PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
MATA KULIAH : SOFTSKILL
DOSEN : NITA SRI HANDAYANI, SPsi



UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA 2014/2015









KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “perkembangan kreativitas dan keberbakatan”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Softskill.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. 
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.























       I.      TEORI-TEORI TENTANG PRESS


Kreativitas agar dapat terwujud diperlukan dorongan dari individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik)
a.       Motivasi Intrinsik dari Kreativitas
Setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan mewujudkan potensinya, mewujudkan dirinya, dorongan berkembang menjadi matang, dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitasnya.
Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru denganlingkungannya dalam upaya manjadi dirinya sepenuhnya. (Rogers dan Vernon 1982)
b.      Kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif
Kretaivitas memang tidak dapat dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh, bibit unggul memerlukan kokdisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu mengembangkan sendiri potensinya.
Bagaimana cara menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri anak (internal) untuk mengembangkan kreativitasnya?
Menurut pengalaman Carl Rogers dalam psikoterapi adalah dengan menciptakan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis.
1.      Keamanan psikologis
Ini dapat terbentuk dengan 3 proses yang saling berhubungan:
a.    Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelabihan dan keterbatasannya.
b.      Mengusahakan suasana  yang didalamnya evaluasi eksternal tidak ada / tidak mengandung efek mengancam. Evaluasi selalu mengandung efek mengancam yang menimbulkan kebutuhan akan pertahanan ego.
c.          Memberikan pengertian secara empatis
Dapat menghayati perasaan-perasaan anak, pemikiran-pemikirannya, dapat melihat dari sudut pandang anak dan dapat menenrimanya, dapat memberikan rasa aman.
2.      Kebebasan psikologis
Apabila guru mengijinkan atau memberi kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan secara simbolis (melalui sajak atau gambar) pikiran atau perasaannya. Ini berarti mmebrei kebebasan dalam berfikir atau merasa apa yang ada dalam dirinya.

II. TEORI TENTANG PROSES KREATIF


a.       Wallas dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4 tahap :
1.      Tahap Persiapan, memperisapkan diri untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan data/ informasi, mempelajari pola berpikir dari orang lain, bertanya kepada orang lain.
  1. Tahap Inkubasi, pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan diri untuk sementara masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya’ dalam alam pra sadar.
  2. Tahap Iluminasi, tahap ini merupakan tahap timbulnya “insight” atau “Aha Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru.
  3. Tahap Verifikasi, tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut terhapad realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran kritis).

b.      Teori Tentang Belahan Otak Kiri dan Otak Kanan


Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi, selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan. Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia” yang membagi fungsi mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri.
Teori ini walaupun didukung data empiris, namun masih memerlukan pengkajian lebih lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).








DIKOTOMI FUNGSI MENTAL
Belahan Otak Kiri
Belahan Otak Kanan
Intelek
Intuisi
Konvergen
Divergen
Intelektual
Emosional
Rasional
Metaforik, intuitif
Verbal
Non Verbal
Horizontal
Vertikal
Konkret
Abstrak
Realistis
Impulsif
Diarahkan
Bebas
Diferensial
Eksistensial
Sekuensial
Multipel
Historikal
Tanpa Batas Waktu
Analitis
Sintesis, Holitik
Eksplisit
Implisit
Objektif
Subjektif
Suksesif
Simultan
Sumber : Springer, S.P dan Deutsch, 1981








III. KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS

a.       Pengertian Keberbakatan
Keberbakatan merupakan interaksi antara kemampuan umum dan atau spesifik, tingkat tanggung jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat kreativitas yang tinggi (Renzulli dalam Hawadi, 2002). Renzulli melihat bahwa orang yang berprestasi adalah orang yang mampu memberikan sumbangan kreatif dan prestasi yang sama baiknya dalam tiga kluster yang saling terkait. Renzulli menegaskan tidak satupun kluster yang membuat keberbakatan selain adanya interaksi antara tiga kluster tersebut yang didalam studi-studi terdahulu menjadi resep yang dilakukan untuk tercapainya prestasi kreatif-produktif (Renzulli dalam Hawadi, 2002).

b.      Pengertian Kreativitas
Kreativitas adalah suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfikir (Utami Munandar, 1977)
Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru,  apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock 1978)
Proses kreatif sebagai “ munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya dilain pihak” (Rogers, 1982) Penekanan pada :
§  aspek baru dari produk kreatif yang dihasilkan
§  aspek interaksi antara individu dan  lingkungannya / kebudayaannya
Kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya. Tujuan pembangunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik (Alvian, 1983)
Kreativitas didefinisikan sebagai suatu pengalaman untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas individu secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan orang lain, diri sendiri dan alam (Olson, 1992).

c.       Hubungan antara pengertian keberbakatan dan Kreativitas
Konsepsi “ Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara :
1.      Kemampuan umum di atas rata – rata,
2.      Kreativitas di atas rata – rata, dan
3.      Pengikatan diri terhadap tugas ( task commitment cukup tinggi)





Kemampuan diatas rata – rata
Salah satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman ( 1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “ kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
Kreativitas diatas rata -rata
Kelompok ( cluster) kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk  melihat hubungan – hubungan baru antara unsur – unsur yang sudah ada sebelumnya.
Pengikatan diri terhadap tugas
Kelompok karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “, namun dia percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi ( pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.




SUMBER :
Agustian, Ary Ginanjar. 2004. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power. Jakarta: Atkinson, R. L. dkk. 1987. Pengantar Psikologi I. Jakarta: Penerbit Erlangga Arga.
Campbell, David.1986. Mengembangkan Kreativitas. Yogyakarta: Kanisius.
Craft, Anna. 2000. Membangun Kreativitas Anak. Depok: Inisiasi Press.
Hawadi, Reni Akbar, R. Sihadi Darmo Wihandjo, dan Mardi Wiyono. 2001. Keberbakatan Intelektual. Jakarta: Grasindo
--------. 2001. Kreativitas. Jakarta: Grasindo.
Munandar, Utami. 2002.  Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Porter, Bobbi De dan Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl. 2002. Accelerated Learning. Bandung: Nuansa.
Semiawan, C. 1995. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta : Depdikbud. Dirjen Dikti

Tim Redaksi.1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka