SOFTSKILL
: TUGAS I
KESEHATAN
MENTAL
NAMA
: WULAN SUNDARI
NPM : 1C514329
KELAS : 2 PA 18
Kesehatan mental adalah
terhindarnya seseorang dari gejala gangguan atau penyakit mental, terwujudnya
keharmonisan yang sungguh-sungguh antar fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai
kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dan merasakan secara
positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya, adanya kemampuan yang dimiliki untuk
menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan
keimanan dan ketakwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan
bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.
Berdasarkan orientasi penyesuaian
diri, kesehatan mental memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk dapat
menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya, dan kesehatan mental
perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara keseluruhan.
Penentuan derajat kesehatan mental seseorang bukan hanya berdasarkan jiwanya
tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang
dalam lingkungannya. Kesehatan mental seseorang sangat erat kaitannya dengan
tuntutan-tuntutan masyarakat tempat ia hidup, masalah-masalah hidup yang
dialami, peran sosial dan pencapaian-pencapaian sosialnya.
Istilah “kesehatan mental” diambil
dari konsep mental hygiene. Kata “mental” diambil dari bahasa Yunani,
pengertiannya sama dengan psyche dalam bahas latin yang artinya psikis, jiwa
atau kejiwaan. Kesehatan mental merupakan bagian dari psikologi agama, terus
berkembang dengan pesat. jadi dapat diambil kesimpulan bahwa mental hygiene
berarti mental yang sehat atau kesehatan mental. Sedangkan yang dimaksud
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental
baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan
sosial).
Mental yang sehat tidak akan mudah
terganggu oleh Stressor (Penyebab terjadinya stres) orang yang memiliki mental
sehat berarti mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya
sendiri dan lingkungannya. Noto Soedirdjo, menyatakan bahwa ciri-ciri orang
yang memiliki kesehatan mental adalah Memiliki kemampuan diri untuk bertahan
dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya. Sedangkan menurut Clausen
Karentanan (Susceptibility) Keberadaan seseorang terhadap stressor berbeda-beda
karena faktor genetic, proses belajar dan budaya yang ada dilingkungannya, juga
intensitas stressor yang diterima oleh seseorang dengan orang lain juga
berbeda. Zakiah Daradjat mendefinisikan kesehatan mental dengan beberapa
pengertian :
1. Terhindarnya
orang dari gejala - gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala - gejala
penyakit jiwa (psychose).
2. Kemampuan
untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat
serta lingkungan dimana ia hidup.
3. Pengetahuan
dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala
potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa
kepada kebahagian diri dan orang lain, serta terhindar dari gangguan - gangguan
dan penyakit jiwa.
4. Berwujudnya
keharmonisan yang sungguh - sungguh antara fungsi - fungsi jiwa, serta
mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem - problem biasa yang terjadi,
dan merasakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya.
Jadi
Kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek
psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar
individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan
atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat
luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.
Kesehatan mental pada manusia itu dipengaruhi oleh faktor internal dan external. Keduanya saling mempengaruhi dan dapat menyebabkan mental yang sakit sehingga bisa menyebabkan gangguan jiwa dan penyakit jiwa.
Kesehatan mental pada manusia itu dipengaruhi oleh faktor internal dan external. Keduanya saling mempengaruhi dan dapat menyebabkan mental yang sakit sehingga bisa menyebabkan gangguan jiwa dan penyakit jiwa.
1. Faktor
Internal
Faktor
internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang seperti sifat,
bakat, keturunan dan sebagainya. Contoh sifat yaitu seperti sifat jahat, baik,
pemarah, dengki, iri, pemalu, pemberani, dan lain sebagainya. Contoh bakat
yakni misalnya bakat melukis, bermain musik, menciptakan lagu, akting, dan
lain-lain. Sedangkan aspek keturunan seperti turunan emosi, intelektualitas,
potensi diri, dan sebagainya.
2. Faktor
Eksternal
Faktor
eksternal merupakan faktor yang berada di luar diri seseorang yang dapat
mempengaruhi mental seseorang. Lingkungan eksternal yang paling dekat dengan
seorang manusia adalah keluarga seperti orang tua, anak, istri, kakak, adik,
kakek-nenek, dan masih banyak lagi lainnya. Faktor luar lain yang berpengaruh
yaitu seperti hukum, politik, sosial budaya, agama, pemerintah, pendidikan,
pekerjaan, masyarakat, dan sebagainya. Faktor eksternal yang baik dapat menjaga
mental seseorang, namun faktor external yang buruk / tidak baik dapat
berpotensi menimbulkan mental tidak sehat.
Selanjutnya selain kedua factor tersebut yang dapat mempengaruhi kesehatan mental, juga dapat dipengaruhi oleh aspek psikis manusia. Aspek psikis manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan sistem biologis, sebagai sub sistem dari eksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan untuk melihat jiwa manusia.
Selanjutnya selain kedua factor tersebut yang dapat mempengaruhi kesehatan mental, juga dapat dipengaruhi oleh aspek psikis manusia. Aspek psikis manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan sistem biologis, sebagai sub sistem dari eksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan untuk melihat jiwa manusia.
ü Ada
beberapa aspek psikis yang turut berpengaruh terhadap kesehatan mental, antara
lain :
1. Pengalaman
awal
Pengalaman
awal merupakan segenap pengalaman-pengalaman yang terjadi pada individu
terutama yang terjadi di masa lalunya. Pengalaman awal ini adalah merupakan
bagian penting dan bahkan sangat menentukan bagi kondisi mental individu di
kemudian hari.
2. Kebutuhan
Pemenuhan
kebutuhan dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang. Orang yang telah
mencapai kebutuhan aktualisasi yaitu orang yang mengeksploitasi dan segenap
kemampuan bakat, ketrampilannya sepenuhnya, akan mencapai tingkatan apa yang
disebut dengan tingkatan pengalaman puncak. Dalam berbagai penelitian ditemukan
bahwa orang-orang yang mengalami gangguan mental, disebabkan oleh
ketidakmampuan individu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kebutuhan yang
dimaksud di sini adalah kebutuhan dasar yang tersusun secara hirarki. Kebutuhan
biologis, kebutuhan rasa aman, meliputi kebutuhan dicintai, kebutuhan harga
diri, pengetahuan, keindahan dan kebutuhan aktualisasi diri.
ü Ciri-ciri
kesehatan mental dikelompokkan kedalam enam kategori, yaitu:
1. Memiliki
sikap batin (Attidude) yang positif terhadap dirinya sendiri.
2. Aktualisasi
diri
3. Mampu
mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi yang psikis ada
4. Mampu
berotonom terhadap diri sendiri (Mandiri)
5. Memiliki
persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada
6. Mampu
menselaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri.
M.
Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental, memberi definisi kesehatan
mental yang rinci. Dalam definisinya, “kesehatan mental adalah kondisi
seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi
dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika
berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik tentang
kehidupan maupun keadaan diri sendiri.” Definisi dari Jahoda mengandung
istilah-istilah yang pengertiannya perlu dipahami secara jelas yaitu
penyesuaian diri yang aktif, stabilitas diri, penilaian nyata tentang kehidupan
dan keadaan diri sendiri.
Penyesuaiaan
diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah
rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam maupun luar diri.
Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental adalah
penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu berperan aktif
dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu. Individu tidak seperti binatang
atau tumbuhan hanya reaktif terhadap lingkungan. Dengan kata lain individu
memiliki otonomi dalam menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
1. Sikap
positif terhadap diri sendiri.
Hal
ini terkait dengan tingkat harga diri individu. Untuk kesehatan mental yang
ideal sikap positif harus pada tingkat yang baik, sehingga individu merasa
senang dengan diri mereka sendiri.
2. Tumbuh
kembang dan aktualisasi diri
Aktualisasi
diri adalah dimana keadaan dalam rasa kepuasan, perasaan bahwa anda telah
menjadi yang terbaik.
3.
Otonomi
Artinya
adalah memiliki independensi dan kemandirian. kemampuan untuk berfungsi sebagai
individu dan tidak tergantung pada orang lain.
4.
Ketahanan terhadap stres
Kriteria
ini adalah bahwa seorang individu tidak perlu merasa di bawah tekanan dan
mereka harus mampu menangani situasi stres kompeten.
5.
Penguasaan lingkungan
Memiliki
penguasaan lingkungan berarti bahwa orang tersebut dapat beradaptasi dengan
situasi baru dan merasa nyaman di semua situasi dalam hidup mereka.
6.
Persepsi yang akurat tentang realitas
Kriteria
ini difokuskan pada bagaimana individu melihat dunia di sekitar mereka dan
untuk mencapai kesehatan mental yang ideal mereka harus memiliki perspektif
yang mirip dengan bagaimana cara orang lain melihat dunia. Ini sangat
difokuskan pada distorsi berpikir bahwa beberapa orang, misalnya orang dengan
skizofrenia, mungkin mengalami.
Jahoda
menyatakan bahwa untuk kesehatan mental yang ideal yang ingin dicapai individu
harus mengalami semua kriteria ini untuk kesehatan mental yang ideal optimal
dan bahwa jika beberapa tidak dipenuhi orang tersebut akan mengalami kesulitan.
Referensi:
Yustinus Semiun. OFM.
2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta : Kanisius
Siswanto. S. Psi. Msi. 2007. Kesehatan
Mental,Konsep,Cakupan dan Perkembangan. Yogyakarta : Andi.
Kholil Rochman Lur.
2010. Kesehatan Mental. Purwokerto : Fajar Media Press
