MAKALAH
SOFTSKILL
“PENGEMBANGAN
KREATIVITAS & KEBERBAKATAN”
DISUSUN
OLEH KELOMPOK :
-
AGVA EKO SUTRIONO (10514523)
-
NILAM SALAMAH HAMID (1D514168)
-
WULAN SUNDARI (1C514329)
KELAS
1PA18
FAKULTAS
PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
MATA
KULIAH : SOFTSKILL
DOSEN
: NITA SRI HANDAYANI, SPsi
UNIVERSITAS
GUNADARMA
PTA 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala,
karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
“perkembangan kreativitas dan keberbakatan”. Makalah ini diajukan guna memenuhi
tugas mata kuliah Softskill.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat
untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
I. TEORI-TEORI TENTANG PRESS
Kreativitas agar dapat terwujud diperlukan dorongan dari
individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi
ekstrinsik)
a. Motivasi
Intrinsik dari Kreativitas
Setiap individu memiliki kecenderungan
atau dorongan mewujudkan potensinya, mewujudkan dirinya, dorongan berkembang
menjadi matang, dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitasnya.
Dorongan ini
merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan
baru denganlingkungannya dalam upaya manjadi dirinya sepenuhnya. (Rogers
dan Vernon 1982)
b.
Kondisi eksternal
yang mendorong perilaku kreatif
Kretaivitas memang
tidak dapat dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh, bibit unggul
memerlukan kokdisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu mengembangkan
sendiri potensinya.
Bagaimana cara
menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri anak
(internal) untuk mengembangkan kreativitasnya?
Menurut pengalaman
Carl Rogers dalam psikoterapi adalah dengan menciptakan kondisi keamanan
dan kebebasan psikologis.
1. Keamanan
psikologis
Ini dapat terbentuk dengan 3 proses yang saling
berhubungan:
a. Menerima
individu sebagaimana adanya dengan segala kelabihan dan keterbatasannya.
b.
Mengusahakan
suasana yang didalamnya evaluasi
eksternal tidak ada / tidak mengandung efek mengancam. Evaluasi selalu
mengandung efek mengancam yang menimbulkan kebutuhan akan pertahanan ego.
c. Memberikan
pengertian secara empatis
Dapat menghayati perasaan-perasaan
anak, pemikiran-pemikirannya, dapat melihat dari sudut pandang anak dan dapat
menenrimanya, dapat memberikan rasa aman.
2. Kebebasan
psikologis
Apabila
guru mengijinkan atau memberi kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan
secara simbolis (melalui sajak atau gambar) pikiran atau perasaannya. Ini berarti mmebrei kebebasan dalam berfikir atau merasa
apa yang ada dalam dirinya.
II. TEORI TENTANG PROSES
KREATIF
a. Wallas
dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4
tahap :
1. Tahap Persiapan, memperisapkan diri untuk memecahkan masalah
dengan mengumpulkan data/ informasi, mempelajari pola berpikir dari orang lain,
bertanya kepada orang lain.
- Tahap Inkubasi, pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan
diri untuk sementara masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah
tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya’ dalam alam pra sadar.
- Tahap Iluminasi, tahap ini merupakan tahap timbulnya “insight” atau “Aha Erlebnis”,
saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru.
- Tahap Verifikasi, tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut
terhapad realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen.
Proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses
konvergensi (pemikiran kritis).
b.
Teori Tentang Belahan Otak Kiri
dan Otak Kanan
Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi,
selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan.
Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa
menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian
orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia” yang membagi fungsi
mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri.
Teori ini walaupun didukung data empiris, namun masih
memerlukan pengkajian lebih lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).
DIKOTOMI FUNGSI
MENTAL
|
Belahan
Otak Kiri
|
Belahan
Otak Kanan
|
|
Intelek
|
Intuisi
|
|
Konvergen
|
Divergen
|
|
Intelektual
|
Emosional
|
|
Rasional
|
Metaforik,
intuitif
|
|
Verbal
|
Non
Verbal
|
|
Horizontal
|
Vertikal
|
|
Konkret
|
Abstrak
|
|
Realistis
|
Impulsif
|
|
Diarahkan
|
Bebas
|
|
Diferensial
|
Eksistensial
|
|
Sekuensial
|
Multipel
|
|
Historikal
|
Tanpa
Batas Waktu
|
|
Analitis
|
Sintesis,
Holitik
|
|
Eksplisit
|
Implisit
|
|
Objektif
|
Subjektif
|
|
Suksesif
|
Simultan
|
Sumber : Springer, S.P dan Deutsch, 1981
III. KEBERBAKATAN DAN
KREATIVITAS
a. Pengertian Keberbakatan
Keberbakatan merupakan interaksi antara kemampuan umum dan atau spesifik,
tingkat tanggung jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat kreativitas yang
tinggi (Renzulli dalam Hawadi, 2002). Renzulli melihat bahwa orang yang
berprestasi adalah orang yang mampu memberikan sumbangan kreatif dan prestasi
yang sama baiknya dalam tiga kluster yang saling terkait. Renzulli menegaskan tidak
satupun kluster yang membuat keberbakatan selain adanya interaksi antara tiga
kluster tersebut yang didalam studi-studi terdahulu menjadi resep yang
dilakukan untuk tercapainya prestasi kreatif-produktif (Renzulli dalam Hawadi,
2002).
b. Pengertian Kreativitas
Kreativitas adalah suatu proses yang tercermin dalam kelancaran,
kelenturan (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfikir (Utami Munandar,
1977)
Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang
baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek
dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock 1978)
Proses kreatif sebagai “ munculnya
dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu
pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya dilain pihak”
(Rogers, 1982) Penekanan pada :
§ aspek baru dari
produk kreatif yang dihasilkan
§ aspek interaksi
antara individu dan lingkungannya /
kebudayaannya
Kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau
bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya. Tujuan
pembangunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik
(Alvian, 1983)
Kreativitas didefinisikan sebagai suatu pengalaman
untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas individu secara terpadu
dalam hubungan eratnya dengan orang lain, diri sendiri dan alam (Olson, 1992).
c. Hubungan antara pengertian keberbakatan dan Kreativitas
Konsepsi “ Three-Ring Conception”
dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok
yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara :
1.
Kemampuan umum di atas rata – rata,
2.
Kreativitas di atas rata – rata, dan
3.
Pengikatan diri terhadap tugas (
task commitment cukup tinggi)
Kemampuan diatas rata – rata
Salah satu kesalahan dalam
identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan
sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan
produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman ( 1959) yang dalam penelitiannya
terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan –
tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan
keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi
pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif
produktif.
Dalam istilah “ kemampuan umum”
tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi,
prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh
adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam
memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu
kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
Kreativitas diatas rata -rata
Kelompok ( cluster) kedua yang
dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk
menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan – gagasan
baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan
untuk melihat hubungan – hubungan baru
antara unsur – unsur yang sudah ada sebelumnya.
Pengikatan diri terhadap tugas
Kelompok karakteristik yang ketiga
yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri
terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang
untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam – macam
rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya,
karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya
sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan
dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “, namun dia percaya bahwa
motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang
perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah
melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan:
kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi ( pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli,
seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang
berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
SUMBER
:
Agustian, Ary Ginanjar. 2004. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power.
Jakarta: Atkinson, R. L. dkk. 1987. Pengantar Psikologi I. Jakarta: Penerbit
Erlangga Arga.
Campbell,
David.1986. Mengembangkan Kreativitas.
Yogyakarta: Kanisius.
Craft, Anna.
2000. Membangun Kreativitas Anak. Depok:
Inisiasi Press.
Hawadi, Reni
Akbar, R. Sihadi Darmo Wihandjo, dan Mardi Wiyono. 2001. Keberbakatan Intelektual. Jakarta: Grasindo
--------.
2001. Kreativitas. Jakarta: Grasindo.
Munandar,
Utami. 2002. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Porter,
Bobbi De dan Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
Rose, Colin
dan Malcolm J. Nicholl. 2002. Accelerated
Learning. Bandung: Nuansa.
Semiawan, C.
1995. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta : Depdikbud. Dirjen Dikti
Tim
Redaksi.1995. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka